Aksi Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi berita utama atas krisis politik yang sedang berlangsung di Amerika Latin. Pada tanggal 23 Januari 2019 Gedung Putih secara resmi mengakui Juan Guaido, presiden Majelis Nasional Venezuela sebagai presiden sementara negara tersebut.

Donald Trump juga menambahkan bahwa protes terhadap Nicholas Maduro, presiden terpilih Venezuela yang memenangkan pemilihan umum pada Mei 2018 yang lalu dan telah mengambil supah jabatan dua minggu yang lalu adalah sebuah protes untuk menegakkan “kebebasan dalam berdemokrasi dan supremasi hukum”.[1]

Bukan lagi menjadi sebuah rahasia bahwa Washington tidak senang dengan arah kebijakan secara keseluruhan Venezuela sejak Hugo Chavez berkuasa pada tahun 1999. Trump sendiri pernah berbicara tentang kemungkinan Amerika Serikat menduduki negara tersebut. Dengan demikian, hampir tidak mengejutkan jika Amerika Serikat dan negara-negara Amerika Latin lainnya kecuali Meksiko dan Bolivia mendukung Juan Guaido yang menyatakan dirinya sebagai presiden Venezuela yang sah pada tanggal 23 Januari 2019.

Setelah Trump, birokrat senior Amerika Serikat seperti Sekretaris Negara Mike Pompeo, Penasihat Keamanan Nasional John Bolton dan senator Marco Rubio telah mengakui bahwa Guaido, pemimpin oposisi Venezuela sebagai penguasa sah negara melalui tweet-nya.

Seiring berjalannya waktu, Kanada, Uni Eropa, Prancis, Inggris, Portugal, Spanyol dan negara-negara Amerika Latin mendukung pernyataan presiden Amerika Serikat Donald Trump. Semuanya telah siap untuk melakukan perubahan rezim di Venezuela. Sikap anti-Maduro Washington ini jelas membuka jalan menuju perang saudara dan kudeta militer di Venezuela. Menurut salah satu kolumnis New York Times Stephen Kinzer, selama hampir seratus tahun telah berhasil melakukan 15 kudeta.[2]

Pemimpin oposisi Guaido yang mendengar pesan tersebut kemudian mengumumkan bahwa ia akan mengampuni komandan militer jika mereka mahu berusaha menggulingkan presiden terpilih dengan kekerasan.[3] Perlu juga dicatat bahwa John Bolton berjanji untuk memastikan bahwa pendapatan minyak Venezuela akan mengalir kepada Guaido daripada Maduro, dengan syarat bahwa mereka berhasil lebih dahulu membawa Venezuela dalam keadaan krisis yang serius. Dalam keadaan demikian, hilangnya pendapatan minyak dapat menempatkan pemerintahan Maduro yang sudah berjuang keras melawan hiperinflasi dalam posisi yang sangat sulit.

Venezuela merupakan salah satu dari lima negara pendiri OPEC (Organization of Petroleum Exporting Countries).[4] Sepuluh tahun yang lalu negara ini menduduki peringkat ketujuh sebagai negara yang paling banyak mengekspor minyak. Dapat dikatakan bahwa konflik eksternal Venezuela dimuali dari pandangan presiden Hugo Chavez bahwa Venezuela adalah negara yang berbeda dengan negara Amerika Latin lainnya. Karena pemimpin gerakan kemerdekaan negara-negara di Amerika Latin lahir dari tanah Venezuela seperti Simon Bolivar, Simon Rodriguez dan Ezequiel Zamora.[5]

Visi politik luar negeri Chavez adalah menyatukan Amerika Latin dengan menghancurkan kekuasaan dan hegemoni Amerika Serikat. Kekuatan ini hanya bisa didapatkan dari pendapatan yang dihasilkan Venezuela. Oleh sebab itu, minyak Venezuela sangat besar pengaruhnya terhadap politik di Amerika Latin. Sebelum Chavez menjadi presiden Venezuela, Amerika Serikat membeli minyak Venezuela dengan harga yang sangat rendah.[6]

Persitiwa yang terjadi pada periode ini berbeda dengan protes yang terjadi pada tahun 2017, pemberontakan yang terjadi pada saat ini mendapatkan dukungan dari basis masyarakat yang berpenghasilan rendah di Venezuela. Meskipun pemerintah bersuka cita atas pernyataan dukungan dari Turki, Rusia, Cina, Meksiko dan Yunani, sanksi ekonomi yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat minggu lalu, berpotensi dapat memulai perang saudara di Venezuela. Venezuela sendiri telah memutus hubungan dengan Amerika Serikat dan meminta agar para diplomat Amerika Serikat meninggalkan Venezuela dalam 72 jam.

Di bawah pengawasan Trump, sistem internasional berkembangan menjadi sebuah platform, di mana perebutan kekuasaan terjadi di depan mata. Banyak negara yang tidak lagi merasa harus menyembunyikan pelanggaran mereka terhadap nilai-nilai universal. Dengan demikian, Donald Trump sendiri tidak memiliki masalah menambahkan kudeta lainnya ke dalam daftar panjang intervensi militer yang didukung oleh Washington di Amerika Latin, yang telah diperlakukan sebagai backyard atau halaman belakang oleh Amerika Serikat sejak diterapkannya doktrin Monroe. Dalam pengertian ini, ia mengikuti jejak presiden pada masa lalu yang menggulingkan para pemimpin terpilih Guatemala pada tahun 1954 dan Chile pada tahun 1973. Meskipun Trump mencoba menjual konflik ini kepada rakyat Amerika atas perubahan rezim ini dengan referensi kebebasan, demokrasi dan supremasi hukum, namun hal ini tidak seefektif tujuan George W. Bush mempromosikan demoktasi di Timur Tengah.

Presiden Recep Tayyip Erdogan adalah pemimpin asing pertama yang menentang kudeta di Venezuela dan ini hampir tidak mengejutkan siapa pun. Seruan Erdogan kepada Maduro untuk tetap tegak berdiri mencerminkan rasa solidaritasnya, karena pemimpin Venezuela tersebut menyatakan solidaritas dengan Turki selama teradinya upaya kudeta yang gagal pada 15 Juli 2016 yang lalu.

Maduro mengatakan bahwa rakyat Turki telah berhasil mempertahankan demokrasi. Dan hal yang sama juga diperjuangkan oleh Venezuela. Seperti yang dikatakan oleh Chavez bahwa di luar sana ada vampir imperialis yang selalu haus darah. Dan Maduro berkata bahwa Turki dan Venezuela harus melawan mereka di segala sektor, energi, ekonomi dan politik.[7]

Pada saat yang sama, presiden Erdogan menekankan pentingnya legitimasi kotak suara bahwa Maduro adalah presiden Venezuela yang memenangkan pemilihan umum. Sebagai orang yang percaya dan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, presiden Erdogan terkejut dengan keputusan dan sikap yang diambil oleh Donald Trump.

Donald Trump mengkritik dukungan Turki untuk Nicholas Maduro dengan memberikan daftar hitam yang dilakukan oleh pemimpin Venezuela. Beberapa tahun terakhir Amerika Serikat juga telah menekan Turki agar masuk ke dalam skenario Amerika yang memainkan isu ideologi yang tidak hanya menciptakan krisis hubungan bilateral antara Turki dan Amerika Serikat, tetapi juga krisis geopolitik. Terutama krisis yang diciptakan Amerika Serikat pada masa Obama yaitu dengan ISIS dan hubungan erat Amerika Serikat dengan FETÖ.[8]

Hal di atas menjadi sebuah upaya yang tidak berarti bagi Amerika Serikat untuk meyakinkan bagaimana keburukan presiden Venezuela terpilih Maduro kepada dunia. Trump dan sekutunya tidak menyerukan konsiliasi atau reformasi. Sebaliknya, mereka hanya mendorong komplotan kudeta dan mengancam akan mulai perang saudara terjadi di Venezuela.

______________________

[1] Burhanettin Duran, “Why Turkey support Venezuela’s elected leader”, Daily Sabah, 27 Januari 2019.

[2] Anıl Emre, “ABD’nın darbeler tarihi”, Haber Türk, 1 September 2016.

[3] “ABD’den Venezuela’da darbe planı: Maduro’yu devirmek için dügmeye bastılar…”, Ahaber, 23 Januari 2019.

[4] “Member Countries”, OPEC, 3 Desember 2018.

[5] Emrah Kaya, “Hugo Chavez’in Petrol Politikası”, SDU Faculty of Arts and Sciences Journal of Social Sciences, 13, 2014, h. 194.

[6] Emrah Kaya, “Hugo Chavez’in Petrol Politikası”, SDU Faculty of Arts and Sciences Journal of Social Sciences, 13, 2014, h. 202.

[7] “Maduro: 15 Temmuz darbe girişiminde Türk millet demokrası sahip çıktı”, Sabah, 10 Oktober 2016.

[8] Hilal Kaplan, “Ne kadar Amerikancısın?”, Sabah, 1 Februari 2019.


fwachidFatchul Wachid, B.A. – fwachid@turkid.org

Researcher on Ottoman Economy, General Coordinator of TURKID Turkish-Indonesian Foundation for Academic Research and Development, Former President of Indonesian Student Association in Turkey.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s