Mengapa Turki Mendukung Presiden Terpilih Venezuela?

Aksi Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi berita utama atas krisis politik yang sedang berlangsung di Amerika Latin. Pada tanggal 23 Januari 2019 Gedung Putih secara resmi mengakui Juan Guaido, presiden Majelis Nasional Venezuela sebagai presiden sementara negara tersebut.

Donald Trump juga menambahkan bahwa protes terhadap Nicholas Maduro, presiden terpilih Venezuela yang memenangkan pemilihan umum pada Mei 2018 yang lalu dan telah mengambil supah jabatan dua minggu yang lalu adalah sebuah protes untuk menegakkan “kebebasan dalam berdemokrasi dan supremasi hukum”.[1]

Bukan lagi menjadi sebuah rahasia bahwa Washington tidak senang dengan arah kebijakan secara keseluruhan Venezuela sejak Hugo Chavez berkuasa pada tahun 1999. Trump sendiri pernah berbicara tentang kemungkinan Amerika Serikat menduduki negara tersebut. Dengan demikian, hampir tidak mengejutkan jika Amerika Serikat dan negara-negara Amerika Latin lainnya kecuali Meksiko dan Bolivia mendukung Juan Guaido yang menyatakan dirinya sebagai presiden Venezuela yang sah pada tanggal 23 Januari 2019.

Setelah Trump, birokrat senior Amerika Serikat seperti Sekretaris Negara Mike Pompeo, Penasihat Keamanan Nasional John Bolton dan senator Marco Rubio telah mengakui bahwa Guaido, pemimpin oposisi Venezuela sebagai penguasa sah negara melalui tweet-nya.

Seiring berjalannya waktu, Kanada, Uni Eropa, Prancis, Inggris, Portugal, Spanyol dan negara-negara Amerika Latin mendukung pernyataan presiden Amerika Serikat Donald Trump. Semuanya telah siap untuk melakukan perubahan rezim di Venezuela. Sikap anti-Maduro Washington ini jelas membuka jalan menuju perang saudara dan kudeta militer di Venezuela. Menurut salah satu kolumnis New York Times Stephen Kinzer, selama hampir seratus tahun telah berhasil melakukan 15 kudeta.[2]

Pemimpin oposisi Guaido yang mendengar pesan tersebut kemudian mengumumkan bahwa ia akan mengampuni komandan militer jika mereka mahu berusaha menggulingkan presiden terpilih dengan kekerasan.[3] Perlu juga dicatat bahwa John Bolton berjanji untuk memastikan bahwa pendapatan minyak Venezuela akan mengalir kepada Guaido daripada Maduro, dengan syarat bahwa mereka berhasil lebih dahulu membawa Venezuela dalam keadaan krisis yang serius. Dalam keadaan demikian, hilangnya pendapatan minyak dapat menempatkan pemerintahan Maduro yang sudah berjuang keras melawan hiperinflasi dalam posisi yang sangat sulit.

Venezuela merupakan salah satu dari lima negara pendiri OPEC (Organization of Petroleum Exporting Countries).[4] Sepuluh tahun yang lalu negara ini menduduki peringkat ketujuh sebagai negara yang paling banyak mengekspor minyak. Dapat dikatakan bahwa konflik eksternal Venezuela dimuali dari pandangan presiden Hugo Chavez bahwa Venezuela adalah negara yang berbeda dengan negara Amerika Latin lainnya. Karena pemimpin gerakan kemerdekaan negara-negara di Amerika Latin lahir dari tanah Venezuela seperti Simon Bolivar, Simon Rodriguez dan Ezequiel Zamora.[5]

Visi politik luar negeri Chavez adalah menyatukan Amerika Latin dengan menghancurkan kekuasaan dan hegemoni Amerika Serikat. Kekuatan ini hanya bisa didapatkan dari pendapatan yang dihasilkan Venezuela. Oleh sebab itu, minyak Venezuela sangat besar pengaruhnya terhadap politik di Amerika Latin. Sebelum Chavez menjadi presiden Venezuela, Amerika Serikat membeli minyak Venezuela dengan harga yang sangat rendah.[6]

Persitiwa yang terjadi pada periode ini berbeda dengan protes yang terjadi pada tahun 2017, pemberontakan yang terjadi pada saat ini mendapatkan dukungan dari basis masyarakat yang berpenghasilan rendah di Venezuela. Meskipun pemerintah bersuka cita atas pernyataan dukungan dari Turki, Rusia, Cina, Meksiko dan Yunani, sanksi ekonomi yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat minggu lalu, berpotensi dapat memulai perang saudara di Venezuela. Venezuela sendiri telah memutus hubungan dengan Amerika Serikat dan meminta agar para diplomat Amerika Serikat meninggalkan Venezuela dalam 72 jam.

Di bawah pengawasan Trump, sistem internasional berkembangan menjadi sebuah platform, di mana perebutan kekuasaan terjadi di depan mata. Banyak negara yang tidak lagi merasa harus menyembunyikan pelanggaran mereka terhadap nilai-nilai universal. Dengan demikian, Donald Trump sendiri tidak memiliki masalah menambahkan kudeta lainnya ke dalam daftar panjang intervensi militer yang didukung oleh Washington di Amerika Latin, yang telah diperlakukan sebagai backyard atau halaman belakang oleh Amerika Serikat sejak diterapkannya doktrin Monroe. Dalam pengertian ini, ia mengikuti jejak presiden pada masa lalu yang menggulingkan para pemimpin terpilih Guatemala pada tahun 1954 dan Chile pada tahun 1973. Meskipun Trump mencoba menjual konflik ini kepada rakyat Amerika atas perubahan rezim ini dengan referensi kebebasan, demokrasi dan supremasi hukum, namun hal ini tidak seefektif tujuan George W. Bush mempromosikan demoktasi di Timur Tengah.

Presiden Recep Tayyip Erdogan adalah pemimpin asing pertama yang menentang kudeta di Venezuela dan ini hampir tidak mengejutkan siapa pun. Seruan Erdogan kepada Maduro untuk tetap tegak berdiri mencerminkan rasa solidaritasnya, karena pemimpin Venezuela tersebut menyatakan solidaritas dengan Turki selama teradinya upaya kudeta yang gagal pada 15 Juli 2016 yang lalu.

Maduro mengatakan bahwa rakyat Turki telah berhasil mempertahankan demokrasi. Dan hal yang sama juga diperjuangkan oleh Venezuela. Seperti yang dikatakan oleh Chavez bahwa di luar sana ada vampir imperialis yang selalu haus darah. Dan Maduro berkata bahwa Turki dan Venezuela harus melawan mereka di segala sektor, energi, ekonomi dan politik.[7]

Pada saat yang sama, presiden Erdogan menekankan pentingnya legitimasi kotak suara bahwa Maduro adalah presiden Venezuela yang memenangkan pemilihan umum. Sebagai orang yang percaya dan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, presiden Erdogan terkejut dengan keputusan dan sikap yang diambil oleh Donald Trump.

Donald Trump mengkritik dukungan Turki untuk Nicholas Maduro dengan memberikan daftar hitam yang dilakukan oleh pemimpin Venezuela. Beberapa tahun terakhir Amerika Serikat juga telah menekan Turki agar masuk ke dalam skenario Amerika yang memainkan isu ideologi yang tidak hanya menciptakan krisis hubungan bilateral antara Turki dan Amerika Serikat, tetapi juga krisis geopolitik. Terutama krisis yang diciptakan Amerika Serikat pada masa Obama yaitu dengan ISIS dan hubungan erat Amerika Serikat dengan FETÖ.[8]

Hal di atas menjadi sebuah upaya yang tidak berarti bagi Amerika Serikat untuk meyakinkan bagaimana keburukan presiden Venezuela terpilih Maduro kepada dunia. Trump dan sekutunya tidak menyerukan konsiliasi atau reformasi. Sebaliknya, mereka hanya mendorong komplotan kudeta dan mengancam akan mulai perang saudara terjadi di Venezuela.

______________________

[1] Burhanettin Duran, “Why Turkey support Venezuela’s elected leader”, Daily Sabah, 27 Januari 2019.

[2] Anıl Emre, “ABD’nın darbeler tarihi”, Haber Türk, 1 September 2016.

[3] “ABD’den Venezuela’da darbe planı: Maduro’yu devirmek için dügmeye bastılar…”, Ahaber, 23 Januari 2019.

[4] “Member Countries”, OPEC, 3 Desember 2018.

[5] Emrah Kaya, “Hugo Chavez’in Petrol Politikası”, SDU Faculty of Arts and Sciences Journal of Social Sciences, 13, 2014, h. 194.

[6] Emrah Kaya, “Hugo Chavez’in Petrol Politikası”, SDU Faculty of Arts and Sciences Journal of Social Sciences, 13, 2014, h. 202.

[7] “Maduro: 15 Temmuz darbe girişiminde Türk millet demokrası sahip çıktı”, Sabah, 10 Oktober 2016.

[8] Hilal Kaplan, “Ne kadar Amerikancısın?”, Sabah, 1 Februari 2019.


fwachidFatchul Wachid, B.A. – fwachid@turkid.org

Researcher on Ottoman Economy, General Coordinator of TURKID Turkish-Indonesian Foundation for Academic Research and Development, Former President of Indonesian Student Association in Turkey.

KTT G20 dan Krisis Finansial Global

g202020202021543677568

Pada tahun 1944, tepat sebelum pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sebuah sistem ekonomi-politik global yang bernama International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia didirikan, dengan ditanda tanganinya pasal-pasal di dalam perjanjian yang merupakan hasil Konferensi Bretton Woods pada tahun 1944 oleh 29 negara. Kedua institusi ini mulai beroperasi pada tahun 1947.

Amerika Serikat mewakili hegemonia sistem politik dan keamanan global, sedangkan Lembaga Bretton Woods yaitu IMF dan Bank Dunia mewakili hegemoni sistem ekonomi politik global dari dunia yang memiliki dua kutub (bipolar) kekuatan pada saat itu. Lembaga Bretton Woods ini juga dapat kita katakana sebagai Lembaga yang mewakili hegemoni dolar dalam dunia ekonomi dan politik internasional.

Setelah runtuhnya sistem Bretton Woods pada tahun 1971 dan terjadinya krisis ekonomi dan keuangan menyusul embargo minyak pada tahun 1973, Amerika Serikat harus berbagi hegemoni ekonomi dan politik global dengan enam negara industri paling maju lainnya, yaitu Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Kanada dan Jepang.

Namun, transformasi kepada sistem oligopolistic ini tidak berhasil mengatasi krisis ekonomi pada paruh kedua pada tahun 1990-an, terutama di negara-negara Asia. Oleh karena itu, Amerika Serikat dan negara lain memutuskan untuk memperluas struktur oligopolistik ke G-20, yaitu dengan memasukkan negara-negara non-Barat seperti Cina, Indonesia, Turki, India, Afrika Selatan dan Arab Saudi. Tujuan utamanya adalah mengamankan stabilitas keuangan global. Namun demikian, itu dianggap sebagai salah satu platform global yang paling signifikan untuk membahas masalah politik global, tidak hanya masalah keuangan dan ekonomi tetapi termasuk juga masalah politik dan keamanan.

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang paling baru diadakan adalah KTT G20 minggu lalu di Buenos Aires, Argentina. Tiga isu utama yang dibahas selama KTT tersebut adalah; masa depan pangan, infrastruktur pembangunan dan masa depan dunia kerja. Namun, ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang semakin meningkat juga menjadi topik utama yang dibahas di KTT tersebut. KTT ini merupakan salah satu pertemuan-pertemuan KTT G20 yang tidak memberikan hasil konkret.

2999

Banyak yang kehilangan kepercayaan dan mulai melakukan penolakan terhadap agenda-agenda G20, bahkan para anggota terkemuka dari seperti Amerika Serikat sudah tidak percaya pada platform multilateral dan prinsip-prinsip ekonomi dan politik liberal global. Beberapa politisi, aktivis dan akademisi ternama juga menyelenggarakan KTT alternatif (sebuah counter summit) yang mengkritisi KTT G20 dan kegiatan IMF. Mereka menamai forum tersebut dengan the First World Forum for Critical Thinking dan mengundang masyarakat untuk mempertanyakan kebijakan kekuatan global. Ribuan demonstran pun berkumpul di Buenos Aires untuk memprotes pertemuan G20, menekankan ketidakadilan politik ekonomi global dan mengkritik kebijakan ekonomi negara-negara anggota G20.

Negara-negara anggota G20 menyetuji bahwa Arab Saudi akan menjadi tuan rumah KTT G20 pada tahun 2020 mendatang; dengan demikian citra putra mahkota Arab Saudi dibersihkan setelah persitiwa pembunuhan Jamal Khashoggi. Beberapa pemimpin Barat seperti Perdana Menteri Inggris Theresa May dan Presiden Prancis Emmanuel Macron pun bahkan memperingatkan putra mahkota untuk langsung bekerja sama dengan Turki untuk mencari tahu siapa yang bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut. Namun lebih pentingnya menjaga stabilitas hubungan bilateral membuat Amerika Serikat, Rusia dan Cina tidakpeduli terhadap masalah ini.

Sepertinya ada dua hasil utama yang dapat diuraikan dari KTT G20 di Argentina. Pertama, dunia berada di ambang krisis keuangan global baru karena kebijakan sepihak Amerika Serikat dan pengguaan dolar Amerika Serikat sebagai ancaman terhadap mitra ekonominya. Secara khusus, kelanjutan perang dagang antara Amerika Serikat dan China akan terus membahayakan masa depan platform G20 ini. Kedua, rekonsiliasi di antara anggota G20 semakin melemah. Bahkan dapat dilihat setiap tahunnya lebih banyak masalah ekonomi dan politik yang muncul di antara negara-negara anggota G20. Oleh karena itu, jika negara-negara anggota G20 tidak mengambil langkah-langkah strategis yang diperlukan, masa depan G20 tidak akan bertahan lama, tidak akan berkelanjutan. Hal ini lebih bergantung pada bagaimana kebijakan Amerika Serikat. Selama pemerintahan Trump membuat kebijakan-kebijakan sepihak dan tetap tidak peduli dengan apa yang terjadi di bagian dunia lain, G20 akan terus mengalami permasalahan antar anggota yang semakin serius.


fwachidFatchul Wachid, B.A. – fwachid@turkid.org

Researcher on Ottoman Economy, General Coordinator of TURKID Turkish-Indonesian Foundation for Academic Research and Development, Former President of Indonesian Student Association in Turkey.

Krisis yang Dihadapi Oleh Umat Muslim

Dunia Islam memiliki keperihan tersendiri yang dialami dalam menghadapi cobaan dan kesengsaraan yang muncul di era modernitas ini, diantaranya adalah hilangnya makna dan arah, merayapnya nihilisme, krisis instrumentasi nilai-nilai, kematian politik, persaingan dalam mengklaim kebenaran, iming-iming komersialisme dan konsumerisme, progresivisme dan sebagainya.

Sebenarnya, judul tulisan ini dapat digunakan untuk menjelaskan kondisi dunia Islam seratus tahun yang lalu ketika Kekaisaran Ottoman runtuh, di mana konsep umat Islam kehilangan makna dan relevansinya. Sejak saat itu atau mungkin bahkan sejak zaman dulu, krisis tidak pernah meninggalkan dunia Islam. Jamaluddin Afghani, Muhammad Abduh, Namık Kemal, Muhammad Iqbal, dan banyak ulama, pemikir, dan aktivis Muslim lainnya telah mengangkat isu yang sama berulang kali. Mengapa? Karena nyatanya krisis itu masih ada, dan kita pada hari ini tidak bisa menganggap dan berkata bahwa tidak ada krisis yang kita hadapi. Krisis itu masih ada.

Tetapi, bukankah krisis itu juga terjadi di semua peradaban? Berapa banyak variasi buku Oswald Spengler “Decline of the West” yang dicetak sejak awal abad ke-20? Tanyakanlah kepada orang Cina dan India, mereka mungkin akan mengatakan hal yang sama tentang perjalanan bangsanya dalam melintasi modernitas peradaban. Bahwa mereka pernah mengalami krisis besar dalam perjalanan peradaban mereka.

Jadi pertanyaannya adalah bukan tentang apakah krisis tersebut ada atau mengapa harus ada setiap saat. Namun, pertanyaannya adalah tentang apakah suatu peradaban memiliki kemampuan dan kekuatan untuk menghasilkan respons kreatif untuk mengatasi krisis ini? Toynbee benar, ketika dia berbicara tentang mekanisme atau pola interaksi “tantangan dan tanggapan (challenge and response)” sebagai ujian ketahanan dan kontinuitas sejati untuk sebuah peradaban. Bahwa yang memungkinkan suatu budaya dan/atau bangsa berhasil untuk mengatasi krisis (challenge), bukanlah kualitas etnis, budaya, agama, atau geografisnya, tetapi kemampuannya untuk beradaptasi dengan tantangan dan siklus tanggapan (response), di mana ia akan mengembangkan strategi baru dan menghasilkan energi baru untuk menangani situasi yang baru muncul.

Inilah yang kurang di dunia Muslim saat ini. Percaya pada Islam sendiri tidak cukup untuk mengelola masalah sosial dan politik. Variasi fideisme (pembenaran oleh iman saja) tidak bisa menjadi obat baik. Orang beriman harus melakukan pekerjaannya sesuai dengan kitab sucinya yang berbicara tentang realita pada zamannya. Sangat banyak ayat-ayat yang ada di dalam Al-Qur’an yang berbicara tentang nasib manusia di dunia dan menjelaskan bagaimana manusia dapat mengatasi cobaan dan kesengsaraan yang merupakan bagian dari kehidupan fana ini. Iman adalah sumber pengetahuan, keberanian, dan tekad yang sangat berharga dan penting. Tetapi hal itu juga seharusnya tidak menjadikan seorang Muslim yang jatuh kepada arogansi teologis dan kemalasan intelektual. Ketika ini terjadi, maka iman tidak bisa memberikan jawaban atas masalah kita di bumi ini.

Prinsip yang sama juga berlaku untuk kebiasaan menyalahkan orang lain atas krisis yang dibuat oleh kita sendiri. Ya, memang ada banyak kekuatan hebat di luar sana. Tidak ada yang dapat menyangkal begitu besarnya manipulasi konstan dalam sistem tatanan dunia saat ini. Tatanan global yang memiliki banyak sisi yang harus disalahkan. Tatanan yang tidak menghasilkan keadilan, perdamaian, dan kesetaraan. Namun, jawabannya atas ini semua tidak hanya dengan menyatakan fakta ini kepada dunia dan kemudian duduk kembali. Tetapi menanggapi tantangan ini dengan cara yang kreatif dan konstruktif.

Tidak seorang pun yang akan bisa memecahkan berbagai masalah yang dihadapi oleh negara-negara Muslim, sampai mereka sadar bahwa mereka sesungguhnya memiliki tanggungjawab terhadap masalah mereka sendiri dan mengambil inisiatif dengan cara mereka sendiri sejauh mungkin, dalam struktur dan tatanan kekuasaan saat ini.

Dari permasalahan Suriah dan Yaman juga Palestina dalam hal memerangi terorisme, negara-negara Muslim -dengan beberapa pengecualian-, hanya menunjukkan sedikit kekuatannya untuk menentukan aturan permainan kebijakan internasional. Hubungan antara penyakit ketergantungan, masalah legitimasi, pemikiran jangka pendek, inferiority complexes dan kurangnya investasi, pemikiran serius, pendidikan dan penelitian telah mengubah dunia Muslim secara keseluruhan menjadi seorang penonton pasif. Dan sekarang yang dibutuhkan adalah visi yang berani, kebijaksanaan, dan kepemimpinan yang berani. Dan itu dibutuhkan sekarang, bukan nanti.

Dunia Islam memiliki keperihan tersendiri yang diadalami dalam menghadapi cobaan dan kesengsaraan yang muncul di era modernitas ini, diantaranya adalah hilangnya makna dan arah, merayapnya nihilisme, krisis instrumentasi nilai-nilai, kematian politik, persaingan dalam mengklaim kebenaran, iming-iming komersialisme dan konsumerisme, progresivisme dan sebagainya. Saya sadar akan sebuah fakta, bahwa banyak umat Muslim yang tidak mengakui bahwa masalah ini sedang dialami oleh masyarakat Muslim. Pandangan mereka tidak benar. Masalah-masalah ini benar-benar ada, memang ada. dan kita harus mulai mengakui fakta sederhana ini.

Dunia Islam dapat melakukan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang dilakukan sekarang dengan memanfaatkan sumber daya manusia, alam dan intelektualnya yang dimilikinya. Negara-negara Muslim dapat dan harus membangun perdamaian, keadilan, transparansi, dan akuntabilitas sebagai basis tatanan sosial. Mereka dapat dan harus menyelesaikan masalah mereka sendiri tanpa menyalahkan orang lain sepanjang waktu. Konformisme moral dan kemalasan intelektual dapat memberi kita rasa percaya diri yang sesat, tetapi tidak dapat membantu kita memecahkan masalah kita. Dan masalah dan krisis ini hanya bisa diselesaikan dengan tanpa membalikkan punggung kita ke seluruh dunia.


ahmadyasinTsania Dzatirrahmi – dzatirrahmi@turkid.org

Researcher on Islamic Studies; Bachelor Student, Faculty of Islamic Studies, Sakarya University. An alumnus of Nurul Iman Islamic Boarding School Tasikmalaya, Indonesia.

Akar Gerakan Anti-islam di Barat

Dalam beberapa dekade terakhir, xenophobia dan Islamophobia di dunia Barat mengalami peningkatan dramatis. Sebetulnya, penggunaan istilah yang lebih tepat pada konsep ini adalah anti-Islamisme, daripada istilah Islamophobia itu sendiri. Konotasi pada istilah pertama adalah konotasi sikap politik, dan istilah yang terakhir adalah sebuah istilah yang menyiratkan rasa takut yang alami.  Dengan mengamati peristiwa-peristiwa terkini yang terjadi di Barat, kita dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa presepsi dan perasaan anti-Islam dan kebijakan anti-Islam secara politis dibangun oleh para penguasa Barat di kalangan tertentu melalui tangan politisi, media, dan universitas.

Para elit politik Barat telah mengembangkan tiga pandangan tentang Islam dan Muslim. Pandangan yang pertama dan yang paling populer adalah anti-Islamisme. Dalam melihat masalah terkini yang muncul di Barat seperti masalah intra-Barat, krisis ekonomi dan sosial, serangan teroris, migrasi dan krisis sistemik dan lainnya, dunia Barat telah dihadapkan dengan munculnya kelompok ultra-nasionalisme yang menyebabkan meningkatnya paham anti-Islamisme.

Dengan runtuhnya Uni Soviet, negara-negara Barat mengganti ancaman merah dengan ancaman hijau; mereka merasa terancam oleh potensi oposisi politik Islam terhadap hegemoni Barat, dan kaum ultra-nasionalis menghubungkan semua masalah yang mereka hadapi kepada Islam dan Muslim.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini memimpin sebuah koalisi besar kaum ultra-nasionalis dan anti-Islamis. Dua langkah terakhirnya menunjukkan sikap anti-Islamnya, dan bertujuan untuk mengubah arah politik Amerika Serikat. Pertama, dia me-retweet video inflamasi yang dibagikan oleh kelompok far-right extremist, di mana pemimpin-pemimpinya telah divonis bersalah di Inggris. Dengan demikian, Trump menjadi presiden Amerika Serikat pertama yang mempromosikan konten peradangan yang memperparah kebencian agama dan secara terbuka menuduh Islam melakukan kekerasan. Kedua, Trump dilaporkan karena mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Hampir semua pengamat dunia internasional setuju bahwa pengakuan ini akan mengakhiri proses perdamaian yang lambat dan justeru semakin mengguncang Timur Tengah yang masih dalam kekacauan.

_98986634_trumptweets-nc
Donald Trump meretweed video Jayda Fransen (kelompok far-right extrimist)

Pandangan kedua adalah presepsi yang dibangun oleh kelompok besar yang kita sebut dengan partai politik. Beberapa dari kelompok ini mendukung kaum ultra-nasionalis dalam perang mereka melawan Islam dan Muslim. Meningkatnya sentimen ultra-nasionalis, menyebabkan banyak partai politik Barat telah menggunakan retorika dan wacana yang sama atau serupa dengan kelompok-kelompok ultra-nasionalis dalam kampanye pemilihan umum untuk mendapatkan suara dari konstituen masing-masing. Yaitu, melawan Islam dan Muslim.

Namun, wacana ini tidak hanya digaungkan oleh partai-partai sayap kanan atau Far-right parties, partai-partai utama pun mulai menggunakan retorika yang sama dengan politik ultra-nasionalis. Namun sejauh ini, hal tersebut berakhir dengan menurunnya suara partai-partai politik utama, tetapi terjadi peningkatan suara yang sangat besar milik kelompok politik radikal sayap kanan. Partai-partai fasis dan rasis mulai dianggap sebagai bagian dari kehidupan politik utama. Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa para pendukung ultra-nasionalis telah berhasil meradikalisasi kehidupan politik dunia Barat.

Misalnya partai Christian Demokratic Union (CDU) dan Partai yang dipimpin oleh Perdana Menteri Belanda Mark Rutte, Partai Rakyat untuk kebebasan dan Demokrasi (VVD) telah berbagi banyak kebijakan dengan partai sayap kanan. Partai CDU kehilangan sekitar 10% suara mereka dalam pemilihan umum terakhir yang diadakan pada bulan September, sementara Alternatif for German (AfG) yang rasis, menerima 13% dan memasuki Bundestag untuk pertama kalinya semenjak Perang Dunia II.

Beberapa partai politik utama dan kelompok-kelompok intelektual, terutama dari sayap kiri dalam spektrum politik, mereka menentang kelompok-kelompok sayap kanan secara prinsip dan ideologi, tetapi mereka mengejar kebijakan-kebijakan ‘peredaan’ terhadap kaum ultra-nasionalis dan mendukung anti-Islamis. Mereka memperluas akses bagi kelompok sayap kanan dan mencoba memahami kelompok sayap kanan, karena semakin meningkatnya jumlah masalah yang dihadapi negara-negara Barat. Mereka tetap acuh ketika Muslim dan Islam dituduh sebagai penyebab dari sebagian masalah yang mereka hadapi.

Pandangan yang terakhir, bahwa Islam adalah oposisi terhadap partai-partai ultra-nasionalis dan kelompok-kelompok sosial. Beberapa kelompok atau partai politik, entah dari kanan atau kiri pada spektrum politik, mereka sadar akan kesalahpahaman yang terstruktur secara afiliasi terhadap Islam dan Muslim. Namun, pengaruh kelompok internasionalis dan pluralis saat ini sangat terbatas karena pemikiran irasional dan ideologis yang dikuasai masih mendominasi dunia Barat.

Kegagalan negara-negara Barat dan rakyatnya untuk melawan gelombang xenophobia dan anti-Islamisme saat ini akan membahayakan masa depan baik di Barat maupun di seluruh dunia. Dalam tatanan dunia global dan interkoneksi seperti saat ini, cukup sulit untuk mengisolasi negara manapun dari bagian dunia lainnya. Oleh karena itu, permusuhan etnis dan agama hanya akan meningkatkan kekacauan dan perang.


Haris Robbani – harisrobbani@turkid.org

Researcher on Islamic Studies; Bachelor Student, Faculty of Political Sciences, Kastamonu University. An alumnus of Al-Kahfi Islamic High School Bogor, Indonesia.

 

Pengaruh Turki dalam Politik Internasional: Wacana Dunia Lebih Besar dari Lima (Dünya Beşten Büyüktür)

erdogan_bm1

Salah satu poin paling penting dalam sejarah Islam adalah pengaruh Abu Dzar al-Ghifari terhadap pemerintahan Muawiyah, penguasa terkuat dari kekhalifahan Umayyah. Suatu hari Muawiyah -beliau adalah salah satu administator terbesar dalam sejarah Islam- beliau mengirim sejumlah uang yang cukup besar sebagai hadiah dari khalifah ke kota dimana Abu Dzar al-Ghifari berada.

Abu Dzar al-Ghifari menerima hadiah tersebut dan hadiah tersebut hanya dibagikan kepada orang-orang miskin. Ketika Khalifah mendengar tentang sikap Abu Dzar al-Ghifari ini, Muawiyah berkata bahwa “Sikap penentangan al-Ghifari terhadap kebijakan kekhalifahan kita, pasti dampaknya akan kuat dan berpengaruh”.

Di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations General Assembly), banyak negarawan dari berbagai negara berbicara kepada masyarakat dan pemimpin dunia. Turki adalah salah satu negara selalu menekankan bagaimana orang-orang yang tertindas di dunia memiliki harapan besar kepada Turki dan menerangkan bagaimana pandangan mereka terhadap Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan. Memang, ketika pemerintahan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) menghadapi resiko kekalahan pada pemilihan umum 7 Juni 2015, masyarakat Turki dan masyarakat global khawatir bahwa orang-orang yang tertindas di dunia akan kehilangan harapan mereka untuk masa depan yang lebih cerah dengan memudarnya kepemimpinan Turki di arena internasional.

Sejak revolusi industri yang disusul dengan periode kolonial (penjajahan), Barat telah makmur berkat keungguulannya dalam produksi dan teknologi. Sedangkan dunia “lain”, telah mereka kutuk dengan isu ketidak adilan, kelaparan, kolonialisme, perang, dan perang saudara.

Dalam menjawab pertanyaan “Mengapa dunia Barat tidak berbagi kemakmurannya dengan dunia “lain”-nya?” kita perlu menggali sampai ke bagian fundamental pemikiran sains Barat dan pemikiran politik, yaitu dunia Yunani kuno. Negara-kota (city-states) Yunani kuno selalu didasarkan kepada dualitas, antara orang dalam dan orang luar, antara bangsawan dan budak.

Mentalitas terdistrosi yang muncul di Yunani kuno ini memperlihatkan mentalitas Barat pada saat ini. Sementara Prancis hidup dalam atmosfer Paris yang mempesona, pemerintah Prancis hanya tertarik mengekploitasi sumber daya bawah tanah yang kaya di benua Afrika tanpa mengganggu diri mereka sendiri bahkan hanya sekedar untuk membuka sumur air. Pembantaian 1 juta orang di Rwanda, misalnya, tidak pernah mengganggu hati tuan-tuan ini. Dalam nada yang sama, Inggris menjadi kerajaan kolonial (penjajah) selama berabad-abad di berbagai tanah di penjuru dunia. Sementara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) dengan menyuap Amerika Serikat sebesar $500 miliar, membuat orang-orang Yaman telah jatuh ke dalam perang sipil yang berdarah. Pada dasarnya, mereka orang Barat adalah orang yang “beradab” dan terus hidup dengan demokrasi, hak asasi manusia, dan kemakmuran. Sementara bagian “barbar” di dunia telah mereka kutuk dengan kolonialisme dan eksploitasi.

Tidak ada negara yang saat ini melawan tatanan dunia yang kejam. Oleh sebab itu, kata-kata Presiden Erdoğan bahwa “Dunia lebih besar dari lima” bersinar di majelis Umum PBB dan membungkam wakil-wakil negara di dunia. Wacana “Dunia lebih besar dari lima” atau “Dünya beşten büyüktür” berasal dari sejumlah dinamika yang terjadi di dunia dan menjelaskan bahwa:

  1. Presiden Erdoğan berdiri di Forum Ekonomi Dunia pada tahun 2009 dan menantang penindasan dan kekejaman zionis Israel terhadap Palestina dengan “one minute”-nya yang terkenal.
  2. Presiden Erdoğan adalah pemimpin politik pertama yang telah mengutuk PBB dalam hal struktur Dewan Keamanan yang tidak adil.
  3. Dalam menghadapi tragedi kemanusiaan di Myanmar, Presiden Erdoğan telah menciptakan kesadaran dunia tentang pembersihan etnis (ethnic cleansing) yang sedang berlangsung di negara itu dan meluncurkan kampanye kemanusiaan bagi ribuan pengungsi.
  4. Mendukung perjuangan Palestina di arena internasional. Presiden Erdoğan telah berhasil mengutuk “keputusan Yerussalem” yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Pertama di Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan kemudian di PBB itu sendiri.
  5. Pada tahap akhir perang sipil Suriah, Turki telah menghentikan penyerangan kota Idlib oleh Rusia, Iran, dan rezim Suriah. Presiden Erdoğan mengambil alih tanggung jawab Sekretaris Jendral PBB dalam masalah ini dan Presiden Erdoğan memanangkan pujian dari seluruh dunia.
  6. Turki menjadi tempat berlindung bagi 4 juta pengungsi Suriah. Turki telah meluncurkan kampanye kemanusiaan yang sangat besar dengan para tentara negara yang sukarela dan lembaga dan organisasi kemasyarakatan.

Suara kemanusiaan dan keberanian Turki di arena internasional -dalam tatanan dunia yang tidak adil dan kejam ini- adalah harapan bagi semua orang yang tertindas di dunia. Karena “dunia lebih besar dari lima”, Dünya beşten büyüktür.


ahmadyasinAhmad Yasin Al-Faruq – ahmadyasin@turkid.org

Researcher on Muslim World; Bachelor Student, Faculty of Islamic Studies, Sakarya University. An alumnus of Nurul Iman Islamic Boarding School Tasikmalaya, Indonesia.

Perjuangan Turki Melawan Inflasi, Dulu, Sekarang dan Masa Depan

Minggu ini, Kementerian Keuangan mengumumkan serangkaian kebijakan untuk mendeklarasikan mobilisasi penuh terhadap inflasi yang telah menyebabkan kenaikan yang cepat terhadap nilai tukar dan suku bunga. Melalui langkah-langkah yang telah diambil dan yang akan diambil, Turki akan sepenuhnya menghilangkan masalah inflasi dari seluruh agendanya. Sejak 2002, Turki telah berhasil menerapkan program dan kebijakan yang berfokus pada pasar dan anti-inflasi yang mampu memperkuat keuangan publik.

Turkey-inflation-tomato-730x438

Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) dan pemerintah tidak membawa kebijakan populis-inflasi dalam agenda bahkan selama periode pemilihan umum – yang merupakan keberhasilan mendasar di seluruh masa jabatan Presiden Recep Tayyip Erdoğan sebagai politikus.

Perhatian dan ketekunan Turki ini disebabkan karena Turki menjadi negara yang sangat menderita dari dampak inflasi pada tahun-tahun sebelumnya dan Turki telah belajar dari itu.

Tak perlu dipertanyakan lagi bahwa masalah inflasi, yang sangat mempengaruhi harga barang dalam beberapa bulan terakhir, mengandung dinamika yang sangat berbeda dari inflasi yang dialami Turki pada tahun 1970-an. Kenaikan inflasi yang cepat saat ini dipicu oleh kenaikan nilai tukar cepat yang siklikal. Itu adalah masalah yang harus diselesaikan dengan menggunakan keuntungan dari floating exchange rate regime dan ekonomi terbuka (open economy).

Dengan kata lain, Turki akan menangani masalah ini dengan lebih lanjut memenuhi persyaratan ekonomi terbuka dan floating exchange rate regime dalam mekanisme pasar. Saya percaya bahwa kita akan cepat kembali normal dengan langkah-langkah yang diambil oleh Kementerian Keuangan.

Pada titik ini, akan baik untuk melihat proses inflasi di Turki pada tahun 1970-an, yang memiliki banyak pelajaran sejarah penting yang akan menjelaskan situasi saat ini. Proses ini, yang merupakan pilihan politik Turki pada tahun-tahun itu, dipertahankan dengan program-program IMF (Dana Moneter Internasional) di sisi ekonomi dan adanya kudeta dan serta berlakunya sistem “parlementer” dalam bidang politik. Dalam pengertian ini, inflasi adalah mekanisme transfer pendapatan pada tahun-tahun itu.

Ketika Anda melihat kondisi saat ini, ketika Turki mengadapi inflasi ekonomi dan pemisahan negara dari ekonomi ini, Anda akan menemukan hasil yang mengejutkan. Misalnya, ada cerita yang sering diceritakan bahwa Turki tidak bergabung dengan Perang Dunia II dan berdiri dengan kedua kakinya. Ini adalah informasi palsu di Turki – entah bagaimana – bergabung dengan Perang Dunia II dan kalah.

Dalam proses yang mengarah pada perang, pemerintah satu partai pada saat itu mengeluarkan sebuah keputusan, yang memberi wewenang kepada bank sentral untuk mengeluarkan dan mengeluarkan uang dalam sirkulasi sebagai ganti obligasi publik yang dijamin dengan treasury. Pinjaman sektor publik dari bank sentral negara itu melonjak ke TL 605 juta ($ 98 juta) pada akhir tahun 1942 dari TL 84 juta pada akhir tahun 1938, sementara nilai uang kertas yang beredar naik menjadi TL 734 juta dari TL 282 juta dalam jumlah yang sama.

Ditambah dengan meningkatnya permintaan masyarakat untuk semua barang dalam kepanikan dan stocking pedagang sebagai hasilnya; ekspansi moneter berikutnya dan kekurangan barang impor menyebabkan kenaikan harga yang cepat.

Menurut Anda apa yang pemerintah lakukan saat itu dalam terang ini? Ini diberlakukan UU Perlindungan Nasional dan mulai mengontrol saham dan menetapkan harga tetap resmi. Namun, persediaan meningkat lebih jauh dan harga naik lebih jauh. Sedemikian rupa sehingga, pada tahun 1941, pemerintah melarang produksi kue dalam menghadapi kekurangan tepung dan gula.

Selama periode ini, negara gagal mengumpulkan pajak dan menutup pengeluaran dengan pinjaman bank sentral, dengan kata lain dengan mencetak uang. Jadi, harga domestik sedang naik, namun birokrasi yang dikendalikan oleh pedagang-pedagang dan importir palsu industrialis mematok nilai tukar untuk memastikan bahwa impor itu murah.

Setelah beberapa saat, birokrasi ekonomi memperkenalkan otorisasi untuk impor dan alokasi devisa. Namun, itu tidak melakukan apa pun selain meningkatkan korupsi, pasar gelap dan orang kaya baru yang curang.

Jika Anda menulis sejarah inflasi di Turki, Anda akan menghadapi mekanisme eksploitasi sistemik dan global. Proses ini dan pinjaman sektor publik berakhir di era Erdogan. Juga, negara berhenti menghasilkan inflasi dengan pembiayaan inflasi dan mentransfernya ke sektor swasta.

Selama seluruh periode ini, bank sentral, bank-bank negara dan bendahara jatuh ke tempat yang tepat. Stabilitas dan kemewahan dalam keuangan publik telah menjadi kebijakan negara selama periode Erdogan dan stabilitas keuangan telah dipastikan secara permanen untuk pertama kalinya dalam periode ini. Ini telah memungkinkan Turki untuk meminjam dari pasar global dalam kondisi yang wajar dan investor asing untuk mendapatkan keuntungan dari lingkungan yang stabil ini.

Sumbu utama perjuangan Turki melawan inflasi adalah membangun ekonomi baru berdasarkan produktivitas teknologi. Untuk ini, kita harus mengikuti jalan utama membangun ekonomi usaha kecil dan menengah (UKM) yang kompetitif yang bersaing dalam skala global melalui teknologi, mengamati efisiensi teknologi dan mencapai skala yang tepat sesuai dengan lingkup ekonomi.

Dalam pengertian ini, inti perjuangan melawan inflasi haruslah untuk melawan struktur monopoli dan tidak efisien, dan perjuangan ini harus menempatkan usaha kecil dan menengah atas dasar fungsi pasar bebas. Dalam pembiayaan ekonomi ini, sistem perbankan monopoli-oligopolistik seharusnya tidak berada di latar depan dan jaringan pembiayaan baru di mana pasar modal yang menonjol harus dikembangkan. Dengan kata lain, pembiayaan dalam, yang memiliki pasar kedua yang sehat, adalah sine qua non dari ekonomi yang berorientasi produksi dan obat pertama untuk inflasi.

Solusi dasar untuk menangani inflasi di Turki bukan untuk memperketat permintaan dengan cepat dan membuatnya sulit dan mahal untuk usaha kecil dan menengah untuk mengakses pembiayaan. Ini akan menyebabkan stagnasi dan mendorong inflasi dalam jangka menengah dan panjang – yang berarti lingkaran setan permanen dari inflasi dan stagnasi, yaitu proses stagflasi yang kaku.

Seperti yang saya nyatakan di atas, tindakan non-pasar, seperti batas harga, harga tetap atau kontrol stok detektif, tidak akan berlaku lagi. Mereka juga sudah tidak bisa diterima di masa lalu. Namun, penting untuk mengambil langkah-langkah untuk menyoroti persaingan di pasar, menjadikan Otoritas Persaingan lebih efisien dan membatalkan penetapan harga monopoli berdasarkan peraturan pasar. Mari kita perhatikan bahwa harga spekulatif – dari makanan hingga produk teknologi canggih – bukanlah tugas anak di bawah umur yang kompetitif. Ini membutuhkan organisasi monopoli yang top-down. Dan, dalam ekonomi pasar terbuka, organisasi-organisasi ini adalah struktur kriminal yang dianggap sebagai struktur keuangan Ponzi-style. Di sini, kita memerlukan undang-undang persaingan baru untuk menggali struktur-struktur ini dan lembaga persaingan regulasi independen yang akan menegakkan hukum ini dengan baik dari pertanian ke industri.


fwachidFatchul Wachid, B.A. – fwachid@turkid.org

Researcher on Ottoman Economy, General Coordinator of TURKID Turkish-Indonesian Foundation for Academic Research and Development, Former President of Indonesian Student Association in Turkey.

Membuka Perang Ekonomi Turki

“Sekarang betul-betul susah mas, kami terpaksa menaikkan harga. Ditambah kami harus membayar sewa ruko-ruko ini dalam bentuk Dolar dan Euro, kita menjual barang dengan Lira”.

Hari demi hari, Turki dan Recep Tayyip Erdoğan mendekati tahun 2023. Tahun 2023 merupakan momen yang besar bagi sejarah bangsa Turki, terutama untuk Erdoğan dan AKP yang memiliki visi 2023. Tahun ini bertepatan dengan 100 tahun berdirinya Republik Turki -sekaligus runtuhnya kekhalifahan Turki Ustmaniyah- pada tanggal 29 Oktober 1923. Di tahun 2023 pula perjanjian Lozan berakhir dan direncanakan akan menjadi titik mula New Ottoman Era.

Oleh sebab itu, untuk menyambut tahun 2023 Recep Tayyip Erdoğan dan AKP memiliki proyek-proyek pembangunan infrastruktur yang besar dan diharapkan dapat menjadi pondasi untuk memulakan New Ottoman Era. Seperti bandara internasional ke-3 Istanbul yang sedang dibangun bagaikan benteng yang menghadang Laut Hitam.

Proyek bandara internasional ke-3 yang memiliki enam landasan pacu ini diperkirakan menelan biaya hampir 12 milyar US$ dan memiliki luas sebesar kawasan Manhattan Amerika Serikat. Bandara ini diperkirakan pula mampu mengangkut sekitar 200 juta penumpang per tahunnya dan menjadi bandara tersibuk di dunia. Namun, pembangunan bandara ini bisa menempatkan posisi Turki pada resiko yang semakin besar untuk masuk ke dalam perangkap krisis keuangan.

KanalIst-1
Rencana proyek-proyek besar Istanbul
616x275-ucuncu-havalimani-57-ulkenin-ulastirma-bakanina-anlatildi-1496395567350
Bandara Internasional ke-3 Istanbul, diproyeksikan akan menjadi bandara terpadat di dunia

Presiden Recep Tayyip Erdoğan telah menguasai Turki selama 15 tahun. Dan pada beberapa bulan yang lalu beliau disumpah kembali sebagai presiden pertama Republik Turki dalam sistem presidensial. Ini adalah kekuatan baru Erdoğan.

Erdoğan telah menggunakan kekuatannya untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi tanpa henti melalui pinjaman (hutang) yang tak terkendali. Mengangkat tingkat hutang negara ke tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Diharapkan dengan telah terpilihnya kembali beliau, pengkajian tentang batas-batas realitas ekonomi (economic reality) segera dilakukan.

Investor global berada dalam kondisi yang tidak nyaman, hal ini ditandai dengan nilai mata uang Turki Türk Lirası ₤ telah jatuh selama kurang lebih seperlima tahun ini yang menyebabkan harga barang naik. Nilai tukar Türk Lirası ₤ kembali melemah setelah Recep Tayyip Erdoğan menyerahkan jabatan Menteri Keuangan kepada menantu laki-lakinya Berat Albayrak. Hal ini ditafsirkan oleh pasar global sebagai tanda bahwa Recep Tayyip Erdoğan tidak akan bertanggung jawab dalam perbaikan penatalayananan perekonomian yang baik dalam waktu dekat.

Pembangunan bandara internasional ke-3 Istanbul yang akan dibuka pada bulan Oktober (tahap pertama) terus dilanjutkan dengan menggunakan uang rakyat yang dibayarkan kepada para kontraktor yang memiliki kaitan erat dengan Recep Tayyip Erdoğan. Pemerintah telah memberikan jaminan kepada mereka atas apa pun kerugian yang terjadi. Jika yang para ekonom khawatirkan terjadi, dimana biaya pembangunan dan pengelolaan bandara tersebut lebih besar dari target penumpang, maka publik akan menanggung tagihan (yang sudah dijaminkan) tersebut.

Untuk para penduduk desa yang sudah menjual tanah mereka untuk pembangunan bandara internasional ke-3 Istanbul tersebut, jika hal di atas terjadi maka bandara tersebut tidak akan menjadi sesuatu yang bisa mereka banggakan. Sebaliknya menjadi momok buruk bagi mereka.

Kekhawatiran ini memang tidak terasa secara kasat mata, apalagi kondisi ini dialami oleh salah satu negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia yang mencapai 7.4% dari tahun sebelumnya. Namun, dibalik pertumbuhan itu pinjaman (hutang) sektor publik dan swasta terus mengalir.

Pemerintah telah mensubisidi proyek-proyek infrastruktur raksasa seperti bandara internasional ke-3 Istanbul dan kanal Istanbul sebuah proyek kanal yang menghubungkan Laut Hitam dan Laut Marmara sepanjang 28 mil senilai 13 miliar US$. Banyak pula pembisnis yang telah meminjam dalam mata uang asing, yang berarti beban uang Turki meningkat ketika nilai Türk Lirası ₤.

Perusahaan-perusahaan besar Turki saat ini berusaha membujuk bank dan kreditur lainnya untuk memperpanjang bantuan. Mungkin gelombang kebangkrutan mulai berhembus. Hingga akhir April 2018, perusahaan swasta Turki memiliki hutang luar negeri lebih dari 246 miliar US$. Besar hutang ini setara dengan 1/3 kekayaan negara Republik Turki. Ini adalah angka yang sangat besar. Namun pemerintah mendorong mereka untuk meminjam lebih dan lebih.

Turki dapat menaikkan suku bunga, sudah di posisi 17,75%. Tapi hal itu akan menekan pertumbuhan ekonomi dan mengakhiri ‘perayaan’ industri real estate dan konstruksi. Atau Turki tetap melakukan festival pembangunan sambil menonton inflasi yang semakin meningkat dan nilai Türk Lirası ₤ semakin tenggelam. Ini adalah salah satu jalan yang bisa mengutuk perusahaan-perusahaan menjadi bangkrut. Dan kondisi semakin kompleks.

Kata Owens Thompsen kepada ekonom global di Indosuez Wealth Management, “Turki sudah memiliki modal awal untuk menjadi sebuah negara yang gagal”. Masalah yang dihadapi Turki adalah cerminan masalah yang menyerang pasar negara berkembang pada umumnya.

Ketika Fed menaikkan suku bunga di Amerika Serikat, para investor telah menarik uangnya dari negara-negara berkembang seperti Argentina, Meksiko dan Turki yang saat ini bertaruh pada dolar. Hal itu telah menurunkan nilai mata uang negara berkembang.

Setelah peristiwa kudeta yang gagal dua tahun yang lalu pada 15 Juli 2016, Recep Tayyip Erdoğan telah membuka keran kredit untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Namun, Bank sentral (Türkiye Merkez Bankası) telah berusaha untuk menahan pertumbuhan, mengangkat suku bunga untuk menstabilkan Türk Lirası ₤. Ini mengakibatkan Erdoğan murka kepada gubernur bank sentral.

Erdoğan mengklaim bahwa sumber utama inflasi adalah hasil dari tingkat suku bunga yang tinggi. Sebelum pemilu beliau mengancam akan mengambil kendali bank sentral Turki dan menghapus suku bunga yang tinggi. Investor menganggap itu semua sebagai dorongan untuk segera melarikan diri dari Turki dan mendorong nilai Türk Lirası ₤ jatuh ke jurang yang dalam. Bank sentral menjauh dari keinginan Erdoğan dan meniakkan suku bungan kembali. Pada saat itu lah integritasnya telah rusak parah.

Semua orang sekarang dalam krisis. Setiap orang yang memiliki pengetahuan tentang ekonomi sedikit banyak, tahu tentang kondisi ini. Tapi pemerintah menyembunyikannya.

1841886_770x443

Empat tahun lalu, Makro, sebuah jaringan supermarket nasional, memutuskan untuk mengejar ekspansi agresif. Makro meminjam 200 juta Türk Lirası ₤ (kemudian bernilai sekitar US$ 88 juta) dari tujuh bank Turki, menyetujui suku bunga sekitar 18%. Dalam upaya untuk membatasi beban hutangnya, ia meminjam tambahan US$ 12 juta dalam mata uang Amerika, mengambil keuntungan dari pinjaman dolar hanya dengan bunga 5%.

Makro mulai membuka toko-toko baru dan mepekerjakan lebih banyak pekerja. Tetapi pada pertengahan 2017, Türk Lirası ₤ telah kehilangan lebih dari sepertiga nilainya dan suku bunga Turki sedang naik tinggi. Alhasil, hutang yang harus dibayar perbulan oleh mereka pun meningkat sebesar 50% menjadi 6 juta Türk Lirası ₤. Pada waktu yang sama, pendapatan Makro jatuh saat memasuki pasar.

Makro mengajukan restrukturisasi hutang yang diawasi oleh pengadilan. Dengan hutang yang harus dibayar perbulan oleh Makro adalah 9 juta Türk Lirası ₤. Baru-baru ini muncul kesepakatan mereka akan membayar hutang kepada bank dengan menjaul real estate.

Goksel-Gumusdag-Vural-Ak

Pada tahun 2001, ketika Turki mengalami krisis yang begitu parah sehingga Turki mencari pinjaman dari IMF (International Monetary Fund) Vural AK hampir kehilangan perusahaannya, Intercity, sebuah perusahaan pemasok mobil sewaan. Pada waktu itu, Vural AK, pendiri dan direktur eksekutif Intercity membeli mobil Eropa dengan mata uang Eropa, sambil menraup keuntungannya. Ketika Türk Lirası ₤ jatuh, mereka hampir musnah.

Kejadian itu ternyata tidak mampu memberikan banyak pelajaran kepada Vural AK. Dalam beberapa tahun terakhir Vural AK telah mengekspansi Intercity menjadi perusahaan dengan 50.000 armada kendaraan. Vural AK bersikeras untuk menetapkan harga sewa dalam euro agar sesuai dengan pinjaman yang harus beliau bayar untuk membeli model-model yang baru. Sedangkan para pesaing bisnisnya Vural AK, meminjam dalam dolar dan euro tetapi membeli model-model yang baru dalam bentuk Türk Lirası ₤.

Perusahaan Vural AK, tidak selamat. Sekitar 60% dari pendapatannya berasal dari penjualan mobil bekas setelah sewa selesai. Dengan maraknya inflasi dan kecemasan yang membersar, Vural AK harus memberikan diskon kendaraan untuk nemenukan para pembeli. Tahun lalu, Intercity kehilangan banyak uang karena kondisi ini.

Apa yang dilakukan oleh Recep Tayyip Erdoğan dalam membangun bandara internasional ke-3 yang akan menyaingi London dan Dubai bukan lah suatu kegilaan. Istanbul adalah kota dengan penduduk lebih dari 15 juta jiwa dan berada di persimpangan Asia, Eropa dan Timur Tengah. Bandara utama Turki, Atatürk Airport sudah tidak mampu lagi menampung penumpang yang sangat padat.

Krisis yang Dialami oleh Turki Mengejutkan Banyak Orang, Kecuali Para Analisis Ekonomi

Dalam tulisan yang ditulis oleh Işın Eliçin di Medyascope dan Landon Thomas Jr. di New York Times menyebutkan bahwa seorang ekonom yang bernama Tim Lee sudah memperingatkan selama tujuh tahun terakhir bahwa krisis keuangan di Turki akan memicu bencana yang lebih luas di pasar global. Namun tidak ada yang mendengarkan peringatan Tim Lee hingga hari ini.

Ekonomi Turki bergeming. Besar peluang untuk timbul sebuah ledakan dengan dentuman yang besar. Memang sangat menggelikan ketika Tim Lee memprekdisikan bahwa nilai tukar 1 US$ di titik 7.2 Türk Lirası ₤. Memang sangat mudah bagi orang-orang untuk tidak menghiraukan analisis Tim Lee.

Menurut Tim Lee, salah satu efek samping memiliki tirliunan dolar uang baru yang mengalir di sekitar bank sentral adalah bahwa hal itu menjadi mudah bagi pemerintah dan perusahaan di negara-negara ‘panas’ seperti Turki untuk meminjam uang (hutang) dalam dolar dibandingkan dengan mata uang mereka sendiri untuk membiayai investasi atau rencana pembangunan mereka lainnya.

istanbul_yuksek_yapilar_ucak_isikli_ikaz_lamba_uyari_wetra

Tim Lee menerangkan bahwa menurut Institute of International Finance, hutang perusahaan dalam mata uang asing adalah sebesar US$ 5.5 triliun. Ini adalah fenomena terbesar. Dan Turki sangat bergantung kepada mata uang asing, lebih dari pasar negara berkembang utama lainnya. Hutang perusahaan, financial dan hutang lainnya diambil dalam mata uang asing dan sebagian besarnya adalah dolar. Ini mewakili sekitar 70% dari ekonomi Turki. Perusahaan-perusahaan Turki dan pengembangan real estate menggunakan pinjaman dolar untuk membeli atau membangun pabrik-pabrik baru, pusat perbelanjaan dan gedung-gedung tinggi pencakar langit yang sekarang disebut dengan cakrawala Istanbul.

Ancaman yang datang adalah ketika Türk Lirası ₤ kehilangan nilainya. Menjadi lebih mahal bagi perusahaan Turki untuk membayar pinjaman dalam denominasi dolar. Memang, semakin banyak perusahaan Turki sudah mengatakan bahwa mereka tidak dapat membayar kembali pinjaman (hutang) ini. Perusahaan di Turki mengabaikan resiko dan terus meminjam dalam dolar. Hal ini memiliki potensi untuk memperburuk keadaan dan menimbulkan efek negatif yang luas.

Seperti yang kita ketahui, Turki menjadi salah satu aktor politik regional yang semakin kuat seiring berjalannya waktu. Pada hari ini dapat dikatakan bahwa Turki sudah menjadi salah satu aktor penting di kancah persaingan politik global.

Dalam beberapa waktu terakhir, kekuatan ekonomi global (kapitalisme) menyerang perekonomian Turki melalui nilai tukar Türk Lirası (₤) terhadap mata uang lainnya terutama Dolar Amerika Serikat (US$). Untuk keluar dari badai ekonomi global tersebut, Turki perlu memperkuat perekonomiannya. Apa yang perlu dilakukan oleh Turki? Hal ini juga penting bagi perkonomian Indonesia.

ithalat-ihracat-1

Memperkuat Produksi Dalam Negeri dan Mengurangi Ketergantungan Impor

Turki harus mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk produksi dan mengurangi kegiatan impor dengan memproduksi barang tersebut sendiri. Ini bukan pengganti impor. Dengan penguatan produksi dalam negeri, Turki akan mampu memproduksi barang yang lebih banyak dengan biaya yang lebih murah bahkan mampu mengekspor barang tersebut ke luar negeri.

Turki juga perlu mengalanisis dan mengidentifikasi setiap barang satu per satu yang dapat menyebabkan peningkatan defisit negara saat ini. Termasuk proyek-proyek strategis utama dan mempercepat langkah-langkah yang sudah dimulai untuk mengurangi ketergantungan energi dalam beberapa tahun terakhir.

Yang terpenting adalah sumber daya harus digunakan untuk investasi yang lebih strategis dan selektif, bukan investasi yang serampangan di setiap bidang. Sistem juga harus diatur dengan intensif dan dengan benar. Langkah-langkah ini akan meningkatkan produksi dan mengurangi defisit saat ini serta mengurangi kebutuhan finansial dari luar negeri.

Membuat Strategi Ekspor Baru dan Kewajiban Meningkatkan Kualitas Ekspor

Turki berada di kawasan geografis yang startegis dan mampu menjangkau banyak negara dan benua di penjuru dunia. Turki perlu memperkaya jangkauan dan warna pasar di kawasan yang berbeda-beda dengan agresif.

Pemerintah Turki terutama DEİK (Dış Ekonomik İlişkiler Kurulu / Dewan Hubungan Ekonomi Luar Negeri) perlu membentuk kerjasama yang kuat untuk melakukan ekspansi pasar dengan LSM. DEİK memiliki tugas yang sangat penting. DEİK perlu memposisikan diri sebagai lembaga think-tank dan perlu menjadi panduan bagi investor di berbagai negara dan membuat laporan kepada pemerintah. Kementerian Perdagangan juga harus mengirim para ahli perdagangan untuk masing-masing negara. Hubungan kerjasama perdagangan antara Rusia, China dan Iran juga perlu dimaksimalkan dalam upaya mempercepat penguatan mata uang lokal.

Rusia, China dan Iran juga mendapatkan tarif yang tinggi dari Amerika Serikat. Aktivitas perdagangan antara Turki, Rusia, China dan Iran dengan menggunakan mata uang domestik akan mempercepat perdagangan dan pertumbuhan.

Ultimaker-research-and-development

Mempercepat Penelitian dan Pengembangan (Research and Development)

Turki perlu mengembangkan sektor teknologi dalam negeri agar tidak tergantung impor, dengan perkembangan teknologi yang lebih pesat diharapkan produksi dalam negeri lebih cepat dan berkembang. Pemerintah perlu mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk kegiatan research and development atau litbang.

Sektor ini mendapatkan 1% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Turki dan sudah seharusnya perlu ditingkatkan. Pemerintah Amerika Serikat memberikan 2.79% PDB untuk research and development, Korea Selatan 4.24% dan Jepang 3.29%.

Research and development ini akan memberikan dampak yang positif langsung kepada pertumbuhan ekonomi dan ekspor. Selain itu, pengeluaran R & D memberikan keunggulan kompetitif dan mampu menarik modal asing dari banyak negara. Termasuk mampu mengurangi ketergantungan teknologi pada outsourcing.

Mengurangi Ketergantungan External Financing

Turki perlu memulai melepaskan diri dari sumber external financing Amerika Serikat dan membentuk mengambil sumber external financing unipolar dari negara-negara selain Amerika Serikat. Sebagai tambahan adalah dilakukannya mekanisme Tracking and Monitoring.

Sumber:

  • Landon THOMAS, Peter GOODMAN, New York Times
  • Erdal Tanas KARAGÖL, Yenişafak Gazetesi
  • Yıldıray OĞUR, Karar Gazetesi
  • Tuncay OPÇİN, Kronos News Türkiye