Analisis Kemenangan AK Parti Dalam Pemilihan Daerah Turki 31 Maret 2019

0x0-cumhurbaskani-erdogan-devlet-bahceli-ile-gorustu-1478183575939

Turki telah melewati banyak hal dalam beberapa tahun terakhir tetapi Ankara tidak pernah membiarkan serangan teror, percobaan kudeta atau tekanan lainnya mampu membuat para pemilih untuk tidak pergi ke tempat pemungutan suara. Tidak peduli dengan apa yang dikatakan media internasional tentang Turki atau bagaimana orang-orang di seluruh dunia memandang negara Turki, mencemarkan nama baik Turki. Ada komitmen yang besar dalam diri rakyat Turki dan rasa hormat mereka terhadap demokrasi. Bahkan, pada pesta demokrasi yang dilaksanakan dalam lima tahun terakhir semakin mampu membuka jalan pikiran masyarakat tentang kondisi internal dan eksternal Turki.

Pemilihan Daerah biasanya memiliki dua peran utama dalam demokrasi: Pertama, Pemilihan Daerah mencerminkan tuntutan dan apresiasi pemilih kepada pemerintahan daerah. Kedua, Pemilihan Daerah juga berfungsi sebagai penguji tingkat kepuasan pemilih atas kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah pusat. Oleh sebab itu, Pemilihan Daerah menjadi sarana para pemilih untuk menyampaikan sinyal dan pesan yang kuat kepada pemerintah pusat, dengan cara memilih walikota hingga unit administrasi tingkat terendah yaitu, camat (kepala mahalle).

TURKID Infografi Pilkada

Hingga tahun 1980 peran pemerintah daerah tidak memiliki pengaruh dan kepentingan yang nyata karena anggaran yang dialokasikan untuk pemerintah daerah sangatlah rendah. Pemerintah daerah yang ingin membangun proyek-proyek penting harus memiliki hubungan yang baik dengan pemerintah pusat agar memperoleh anggaran yang relevan. Sejak diberlakukannya kebijakan liberalisasi ekonomi Turki, pemerintah daerah mulai menunjukkan peran mereka dalam pembangunan negara.[1]

Pada hari ini, kedudukan pemerintah daerah sangat penting di Turki. Bukan karena besarnya pendapatan langsung (direct revenues) yang dimiliki oleh pemerintah kota metropolitan seperti Istanbul dan Ankara, namun kedudukan pemerintah daerah memiliki posisi penting dikarenakan pembangunan daerah yang asimetris di negara tersebut. Kondisi pembangunan yang asimetris dapat dilihat pada gambar di bawah ini.[2]

gigit

Baiknya kinerja pemerintahan Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Parti) di sektor ekonomi sejak tahun 2002 memberikan banyak keuntungan dalam setiap Pemilihan Daerah. Kecuali pada Pilkada 2009 dimana performa perekonomian Turki tidak baik setelah terjadinya krisis keuangan global di tahun 2008. Dalam Pemilihan Daerah 2009 Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Parti) mendapatkan suara terendah mereka yaitu kurang dari 39%, namun AK Parti masih berhasil memegang kota-kota metropolitan.[1]

Pada Pemilihan Daerah tahun ini, krisis ekonomi yang dihadapi oleh Turki semakin dalam dan pemulihan perekonomian negara ini memerlukan waktu yang tidak sebentar. Hal ini memberikan motivasi kepada para oposisi untuk melakukan manufer politik. Anti-Erdoğan di dalam dan di luar Turki tentu saja selalu mencoba memanfaatkan momen pemilihan untuk menurunkan Recep Tayyip Erdoğan dengan segala cara. Hal tersebut juga terlihat dalam Pemilu Daerah 2019 ini namun usaha yang mereka lakukan tidak berhasil.

Sama seperti pada Pemilihan Umum 24 Juni 2018, dua koalisi muncul ke permukaan selama periode kampanye. Pertama, Cumhur İttifakı atau Koalisi Rakyat yang dibentuk oleh Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Parti) yang dipimipin oleh Erdoğan dan Partai Nasionalis Konservatif (MHP) yang dipimpin oleh Devlet Bahçeli. Kedua, Millet İttifakı atau Koalisi Bangsa yang dibentuk oleh partai sayap kanan Partai Republik Rakyat (CHP) yang dipimpin oleh Kılıçdaroğlu dan partai sayap kanan İyi Parti (İP) yang dipimpin oleh Meral Akşener. Koalisi ini secara tidak langsung didukung oleh Partai Demokrasi Rakyat (HDP) yang pro terhadap gerakan teroris Kurdistan (PKK).

Kedua aliansi ini bekerja sangat keras dalam pemilihan kali ini. Meskipun yang dilaksanakan pada tanggal 31 Maret 2019 yang lalu adalah Pemilihan Daerah, atmosfer yang tercipta justeru seperti suasana Pemilihan Umum. Banyak lembaga survei yang mengatakan bahwa perolehan suara antara dua koalisi atau aliansi ini sangatlah dekat. Banyak pemilih muda dan banyak para pemilih yang belum menentukan pilihannya (swing voters).

Dapat dilihat bahwa para swing voters merasa ragu-ragu melihat masa lalu Turki yang suram dan kemudian harus melihat masa depan dengan menentukan pilihan untuk memenangkan satu diantara dua koalisi. Semuanya tergantung kepada performa para pemimipin dan politisi besar terhadap apa yang dijanjikan kepada mereka.

Sangat disayangkan Pemilihan Daerah yang seharusnya menjadi ajang untuk berdiskusi dan beradu gagasan tentang pengelolaan kota, pihak oposisi atau Koalisi Bangsa (CHP dan İyi Parti) menjadikan momen Pemilihan Daerah ini sekali lagi sebagai upaya untuk menumbangkan Recep Tayyip Erdoğan ke arah referendum.

Hubungan naik turun antara Turki dan Amerika Serikat telah memberikan dampak yang besar bagi perekonomian Turki. Amerika Serikat memberikan sanksi-sanksi yang tidak terduga sehingga menyebabakan kerugian yang besar bagi mata uang Turki. Setelah kembali stabil, serangan yang tidak terduga juga kembali dilancarkan terhadap perekonomian Turki sehingga membuat banyak orang tidak dapat memprediksi kondisi ekonomi di masa depan. Resesi dunia juga memberikan dampak masyarakat untuk tidak bisa berpikir positif tentang masa depan.

Pihak oposisi menggunakan situasi yang membingungkan ini untuk menyerang Koalisi Rakyat yang dipimipin oleh Recep Tayyip Erdoğan dan Devlet Bahçeli. AK Parti selalu mencoba meyakinkan rakyat Turki bahwa masalah ini dapat dilalui bersama-sama dengan memberikan data-data terhadap pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Turki masa lalu dan hari ini. Bagi AK Parti masalah yang paling besar yang dihadapai oleh Turki bukanlah masalah ekonomi namun ancaman serangan aktor-aktor global terhadap Turki seperti serangan ekonomi Amerika Serikat kepada Turki. Amerika Sertikat juga mendukung Partai Unit Demokrat (PYD) dan unit bersenjatanya YPG salah satu cabang gerakan teroris Kurdistan PKK di Suriah. Bagi Koalisi Rakyat hal ini menjadi ancaman nasional dan ancaman terhadap eksistensi negara.

Hal ini lah yang menyebabkan HDP tidak dapat menjadi bagian dari Koalisi Bangsa yang dimotori oleh Partai Republik Rakyat (CHP) dan İyi Parti. Karena HDP adalah partai yang pro terhadap agenda gerakan teroris Kurdistan (PKK). Namun di lapangan HDP secara totalitas mendukung kolaisi ini untuk memenangkan kota-kota besar seperti Ankara dan Istanbul. Hal ini menyebabkan banyaknya anggota atau calon walikota dari Koalisi Bangsa yang mengundurkan diri dari pencalonan bahkan dari keanggotaan karena menganggap bahwa kerjasama “rahasia” ini menyalahi etik dalam demokrasi.

Beberapa masalah yang tidak dihadapi oleh AK Parti pada Pemilihan Daerah 2014 yang lalu namun terjadi pada pemilihan kali ini. Contohnya adalah hampir semua pihak berjanji tentang pengurusan hewan jalanan di kota-kota besar seperti Istanbul. Meningkatnya urbanisasi dalam beberapa tahun terakhir telah merubah beberapa aspek dalam gaya hidup masyarakat Istanbul. Salah satunya adalah meningkatnya rumah hunian pribadi (non-apartemen) dan kepemilikan hewan peliharaan. Hal ini menjadi masalah terbesar kedua setelah masalah pembangunan infrastruktur negara tersebut.[1]

Masalah serius lainnya adalah janji-janji klasik tentang emansipasi dan pemberdayaan perempuan, seperti tentang prasekolah. Hampir semua partai berjanji akan menyediakan pendidikan bagi para wanita yang bekerja maupun yang tidak bekerja untuk meningkatkan softskill yang dimilikinya. Hal ini dianggap sebagai salah satu cara untuk menyelesaikan berbagai masalah sosial yang ada di dalam institusi keluarga dan masyarakat.

Topik-topik seperti prasekolah dan hak-hak hewan muncul sebagai topik diskusi dalam Pemilihan Daerah tahun ini. Ini merupakan indikator bahwa level “kebutuhan” masyarakat di negara tersebut sudah tidak lagi tentang pembangunan infrastruktur, pembuangan dan pengumpulan sampah di kota-kota atau ketersediaan air bersih.

Sedangkan retorika partai oposisi yang satu sama lainnya memiliki kemiripan adalah tentang pengungsi Suriah di negara itu. Meskipun ini adalah Pemilihan Daerah, sebanyak 3.6 juta pengungsi Suriah berhak memberikan suara dan suara tersebut mereka berikan untuk AK Parti. Hal ini yang dikritisi oleh pihak oposisi seperti CHP. Kondisi ekonomi Turki yang semakin tertekan dalam beberapa bulan terakhir secara aktif meningkatkan sentimen anti-Suriah dan anti-asing dan hal ini akan terus berkembang. Misalkan di dalam salah satu spanduk kampanye yang dilakukan oleh kandidat dari İyi Parti di distrik Fatih bertuliskan, “Tidak akan kami berikan distrik Fatih ini ke tangan rakyat Suriah”.

D1n4ASqWoAA_pGN
Gambar diambil dari akun resmi DPD İyi Parti Distrik Fatih, İstanbul.

Meskipun spanduk tersebut pada akhirnya ditarik kembali namun tidak ada pernyataan resmi tentang permintaan maaf kepada para imigran Suriah. Memang, masalah imigran menjadi salah satu isu penting di Barat. Namun, apa yang dilakukan oleh İyi Parti imigran Suriah di Turki tidak mampu diterima oleh masyarakat Turki pada umumnya. Keluhan masyarakat Istanbul tentang para pengungsi Suriah tidak memiliki refleksi di kotak suara dan ini berarti pemilih masih menganggap masalah imigran Suriah adalah tentang kemanusiaan bukan ancaman dan masalah keamanan.

Selain perdebatan masalah pembangunan sosial dan infrastruktur kota, hal lain yang mengubah arah kampanye dalam Pemilihan Daerah ini adalah masalah identitas. Ketegangan yang muncul di pesta demokrasi kali ini adalah karena terciptanya dua kutup pada referendum yang lalu. Dengan kata lain, retorika dan argumen yang dikemukakan dalam kampanye untuk Pemilihan Parlemen kini telah menjadi bagian dari Pemilihan Daerah. Dengan ini debat klasik antara Sekuler dan Islamis beberapa kali masuk ke dalam agenda untuk mendapatkan suara dari kelompok konservatif. Meskipun demikian, hal tersebut tidak ditanggapi oleh kelompok oposisi, sebaliknya CHP justeru mencoba merayu pemilih konservatif untuk meninggalkan AK Parti. Calon walikota besar Istanbul, Ekrem İmamoğlu berhasil mendapatkan kepercayaan setelah membaca al-Qur’an dengan baik di salah satu masjid di Istanbul.

AK Parti Kembali Mendominasi di Pemilihan Daerah 2019

Pada Pemilihan Daerah 2014 Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Parti) berhasil memperoleh 43.3% dan menjadi pemenang dalam pemilihan tersebut. Dalam Pemilihan Daerah 2019 kali ini, Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Parti) bersama mitra koalisinya MHP berhasil memperoleh 45% dengan kata lain meningkat 2% dan kembali keluar sebagai pemenang kontes pemilihan. Namun di kota besar Ankara dan Istanbul peta suara yang diperoleh AK Parti sangat berbeda dibandingkan dengan dikawasan lainnya.

Dengan melihat hasil ini, Koalisi Rakyat berhasil memenangkan Pemilihan Daerah yang dilaksanakan pada tanggal 31 Maret 2019. AK Parti dan Koalisi Rakyat berhasil memenangkan 778 daerah termasuk 16 diantaranya adalah kota metropolitan seperti Istanbul, 24 kota, 538 distrik dan 200 distrik kecil (belde).

Kita harus ingat bahwa perolehan 45% suara ini adalah bagian dari rangkaian keberhasilan AK Parti secara berturut-turut setelah memenangkan 14 pemilihan yang diadakan sebelumnya. AK Parti telah memenangkan enam kali Pemilihan Anggota Parlemen, empat kali Pemilihan Daerah dan satu kali Pemilihan Presiden Turki. Dan hasil Pemilihan Daerah pada Maret 2019 yang lalu tidaklah berbeda, sekali lagi masyarakat Turki menunjukkan dukungan mereka untuk AK Parti.

Partisipasi rakyat dalam Pemilihan Daerah 2014 sebelumnya sangatlah tinggi yaitu 89%, dan pada Pemilihan Daerah 2019 kondisi tersebut tidaklah berubah, partisipasi rakyat tercatat 84%. Dibandingkan dengan Pemilihan Daerah 2019, Pemilihan Daerah 2014 dianggap sebagai masa kritis bagi AK Parti karena di tahun 2013 terjadi peristiwa Gezi Park. Mereka juga diancam dengan tuduhan peristiwa 17 Desember yang dilakukan oleh kelompok teroris Gülenist (FETÖ) yang telah menyusup ke institusi pengadilan. Pada saat itu, kelompok oposisi percaya bahwa AK Parti akan kehilangan dukungan dan berharap 12 tahun kemudian kekuasaan tunggal AK Parti dan Recep Tayyip Erdoğan berakhir.

Keberhasilan yang diraih oleh AK Parti adalah sebuah keberhasilan beruntun dan tidak pernah terputus. AK Parti telah menguji kekuatannya dalam kotak suara berkali-kali selama lima tahun terakhir dan hasilnya adalah bahwa masyarakat masih mendukung AK Parti dan Recep Tayyip Erdoğan berkuasa dan memberikan mosi percaya.

Hasil Pemilihan Daerah yang penting dan perlu kita catat adalah kemenangan AK Parti dan Koalisi Rakyat di kota-kota yang mayoritas penduduknya adalah orang-orang Kurdi. Bahkan Partai Demokrat Rakyat (HDP) yang menjadi boneka organisasi teroris separatis PKK tidak dapat mendapatkan dukungan dari masyarakat Kurdi. Masyarakat Kurdi yang hidup menderita karena terorisme PKK memilih AK Parti. AK Parti berhasil memenangkan kota Ağrı, Muş, Şanlıurfa, Adıyaman, Malatya dan Şırnak dengan kemenangan besar.

Selama 4.5 tahun ke depan Turki tidak akan melaksanakan pesta demokrasi. Disamping itu sistem presidensial juga akan disempurnakan. Pada Pemilihan Daerah tanggal 31 Maret 2019 Recep Tayyip Erdoğan bersama Koalisi Rakyat telah memenangkan dukungan dari rakyat Kurdi. Setelah ini Recep Tayyip Erdoğan dan MHP akan fokus untuk mencapai target 2023 dalam pertumbuhan ekonomi, pembangunan dan lainnya.

Analisis Kelemahan AK Parti di Pemilihan Daerah 2019

Bagaimana pun seperti yang kita dengar dari berbagai media baik yang dekat dengan pemerintahan Erdoğan maupun yang menjadi alat propaganda pihak oposisi disebutkan bahwa Istanbul memiliki kemungkinan untuk jatuh ke tangan Koalisi Bangsa yang dimotori oleh CHP. Erdoğan dan AK Parti sedang mengajukan gugatan dengan berbagai bukti yang telah dikumpulkan bahwa terjadi kecurangan secara besar-besaran yang dilakukan oleh Koalisi Bangsa.

Dalam pidato resmi Erdoğan pada malam penghitungan suara di kantor DPP AK Parti, Ankara, Erdoğan berkata, “Kita akan mencari tahu apa saja kelemahan kita dan setelah itu kita akan evaluasi demi masa depan yang lebih baik”[1] Oleh sebab itu kami ingin menyampaikan beberapa kelemahan AK Parti dalam Pemilihan Daerah 31 Maret 2019.

Pertama, perlu kita ketahui bahwa periode “impor calon” dari partai luar AK Parti telah selesai di beberapa kota besar seperti Istanbul, Ankara dan Izmir. Semuanya berasal dari anggota AK Parti. CHP pun mencalonkan anggotanya di kota-kota tersebut. Namun, dengan berakhirnya Pemilihan Daerah ini kita dapat mengetahui dengan jelas bahwa AK Parti melakukan kesalahan dalam memilih calon yang berasal dari luar AK Parti. Contohnya adalah kekalahan AK Parti di Yozgat.

Kedua, AK Parti identik dengan pembangunan dan sering menyalahkan lawan politik mereka karena tidak memiliki rangkaian proyek pembangunan. Itu adalah strategi yang luar biasa. Setiap pembangunan yang dilakukan akan mengubah gaya dan cara hidup masyarakat. AK Parti sering menawarkan proyek-proyek perumahan besar dan mewah seperti di Levent, di kawasan Islamis distrik Eyüpsultan. Tanpa disadari proyek-proyek itu menjadi bumerang bagi AK Parti karena masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut sedikit demi sedikit berubah arah menjadi kawasan burjuis dan tidak lagi Islamis. Dan konsisi ini mempengaruhi perolehan suara AK Parti di kawasan tersebut.

Ketiga, melemahnya militansi kader-kader baru AK Parti. Beberapa tugas kader-kader muda AK Parti adalah membuat strategi kampanye di sosial media, membuat seminar dan konferensi serta mengajak anak-anak muda untuk memahami bagaimana AK Parti bekerja dan berkhidmat untuk Turki.

Saya bertanya kepada salah satu kader AK Parti, “Camat mana yang akan kamu dukung dalam Pemilihan Daerah?” Saya menanyakan pendapatnya tentang kontestasi politik di level yang paling rendah dalam struktur administratif Turki. Kader AK Parti tersebut menjawab, “Saya tidak memilih camat berdasarkan partai, mereka sama saja”. Padahal di antara salah satu calon camat di kawasan tersebut ada yang berasal dari HDP yang pro kepada teroris PKK.

Keempat, para birokrat AK Parti sudah mulai menggunakan kata “Saya” dibanding “Kita” dalam kampanye, termasuk calon wali kota İstanbul Binalı Yıldırım sendiri. Dalam beberapa kali kampanye baik di media sosial maupun di lapangan kita dapat mendengar Binali Yıldırım sering menggunakan kata “Saya” ketika menyebutkan kemenangan dan kesuksesan namun menggunakan kata “Kita” ketika menyebutkan masalah dan keburukan.

Kelima, hubungan antara AK Parti dan Saadet Partisi yang semakin curam. Dalam Pemilihan Daerah kali ini Saadet Partisi mampu membuat kejutan dengan menang di beberapa kota tanpa masuk dalam koalisi manapun. Saadet Partisi juga mulai mendapatkan tempat di hati masyarakat. Jika anggota-anggota AK Parti masih mengakui bahwa mereka adalah bagian dari gerakan Milli Görüş dan bagian dari misi Necmettin Erbakan, AK Parti harus memperbaiki hubungan dengan Saadet Partisi dan sebaliknya untuk kepentingan ummat.

Skenario Kekuatan Asing untuk Mengambil Alih Istanbul

Sebuah skenario yang lebih dalam, lebih halus dan lebih senyap untuk mengambil alih pemerintahan Turki telah dilancarkan oleh koalisi kekuatan-kekuatan anti-Erdoğan. Sebuah skenario yang tujuannya lebih dari mengganti wali kota Istanbul telah dimulai.

İbrahim Karagül juga menyebutkan bahwa telah terjadi kudeta dalam Pemilihan Daerah kali ini. Pertama mereka akan mengambil alih Istanbul dan kemudian seluruh Turki melalui Pemilihan Daerah, bukan lagi melalui kudeta militer.[2] Kekuatan tersebut menggunakan orang-orang FETÖ, PKK dalam melaksanakan misi pada Pemilihan Daerah kali ini. AK Parti yang sebenaranya mendapatkan suara lebih dari 200 ditulis “0 (nol)” di dalam lembaran rekapitulasi suara yang akan diserahkan ke Dewan Agung Pemilihan Turki. Hal ini terjadi dimana-mana. Oleh sebab itu, Pemilihan Daerah Turki belum dapat diputuskan terutama untuk kawasan Istanbul. Berikut adalah beberapa bukti yang kami lampirkan terkait skandal pencurian suara yang terjadi di Istanbul. Ketika AK Parti mendapatkan 165 suara dan Vatan Partisi mendapatkan 1 suara, AK Parti ditulis “0” suara.

D3K26fnW0AE57kR
Gambar diambil dari DPW Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Parti) Istanbul, 2019.
D3K26fjW4AA68Yi
Gambar diambil dari DPW Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Parti) Istanbul, 2019.

Para pemimpin oposisi yang merasa terpilih juga melakukan propaganda penggiringan opini publik dengan mengubah profil mereka di media sosial sebagai wali kota atau wali kota besar yang resmi meskipun pihak Dewan Agung Pemilihan Turki belum memberikan keputusan. Dalam hal di atas Dewan Agung Pemilihan Turki telah memutuskan untuk dilakukan penghitungan ulang di beberapa distrik di Istanbul seperti Kartal, Silivri dan lainnya. Bukan tidak mungkin penghitungan ulang juga akan dilakukan di beberapa kota.

0x0-iki-ilcede-flas-gelisme-silivri-ve-kartalda-butun-oylar-yeniden-sayilacak-1554298856638
Surat keputusan penghitungan ulang untuk distrik Silivri, Istanbul yang diterbitkan oleh Dewan Agung Pemilihan Turki.

Sekarang, meskipun AK Parti dan Recep Tayyip Erdoğan dihadapkan dengan kondisi ekonomi Turki yang tertekan, rakyat masih tetap mendukung perjuangan AK Parti. Recep Tayyip Erdoğan terlihat sendirian dalam perjuangan untuk mempertahankan keutuhan negara dengan kualitas kader yang mulai jauh dari pemahaman visi AK Parti. Pemilihan Daerah dan Pemilihan Umum Turki akan selalu diwarnai dengan serangan-serangan pihak anti-Erdoğan dan anti-Muslim.[3]


Referensi:

  • ALBAYRAK, Özlem, “31 Mart Notları”, Yeni Şafak, 2019.
  • ATLAS, Meryem Ilayda, “AK Parti Shape General Trends of Both Opposition, Society”, Daily Sabah, 2019.
  • BARBAROSOĞLU, Fatma, “İşte Bu Andan Geriye Kalan Nedir?”, Yeni Şafak, 2019.
  • BARLAS, Mehmet, “Binali Yıldırım’ın Belediye Başkan Adaylığı İstanbul İçin Bir Şanstı”, Sabah, 2019.
  • BARLAS, Mehmet, “Meğer Ankara ve İstanbul Seçimlerinin Sonucunu Çok Merak Ediyorlarmış”, Sabah,
  • CEYHUN, Ozan, “Ak Party Dominates the 15th Election in Turkey”, Daily Sabah, 2019.
  • GÖNEN, Emre, “The Meaning of the 2019 Election Result”, Daily Sabah, 2019.
  • KARAGÜL, İbrahim, “31 Mart’ta Türkiye’ye Seçim Üzerinden Darbe yapılmıştır, Bir İstanbul Projesi için FETÖ’cüler kullanılmıştır, 15 Temmuz sonrasının ikl adımları atanmıştır, Öyleyse İstanbul’da seçimler yenilenmeli”, Yenişafak, 2019.
  • ORUÇ, Merve Sebnem, “The Last Election in Turkey Until 2023”, Daily Sabah, 2019.
  • ÖZŞAHİN, Şerife, “Türkiye Ekonomisinde Finansal Liberalizasyon ve Ekonomik Büyüme Etkileşimin ARDL Yöntemi ile Analizi”, Selçuk Üniversitesi İİBF Sosyal ve Ekonomik Araştırmalar Dergisi, Konya, 2004.
  • TENEKECİ, İbrahim, “Seçim Notları”, Yeni Şafak, 2019.
  • C. Zafer Kalkınma Ajansı, 2014-2023 TR33 Bölge Planı, Mevcut Durum Raporu (Taslak), Jilid III, 2016.
  • TRT World, Turkey’s President Erdoğan Adresses Supporters After Local Polls, 31 Maret 2019.
  • WILLIAMSON, John, MAHAR, Molly, Finansal Liberalizasyon Üzerine Bir İnceleme, Ankara: Liberte Yayınları, 2002.

[1] Pidato Recep Tayyip Erdoğan tentang Pemilihan Daerah tanggal 31 Maret 2019 dapat dilihat secara lengkap di TRT World, https://www.youtube.com/watch?v=l1aqCa6WgrY diakses pada tanggal 3 April 2019.

[2] İbrahim Karagül, “31 Mart’ta Türkiye’ye Seçim Üzerinden Darbe yapılmıştır, Bir İstanbul Projesi için FETÖ’cüler kullanılmıştır, 15 Temmuz sonrasının ikl adımları atanmıştır, Öyleyse İstanbul’da seçimler yenilenmeli”, Yenişafak, https://www.yenisafak.com/yazarlar/ibrahimkaragul/-31-martta-turkiyeye-secim-uzerinden-darbe-yapilmistir-bir-istanbul-projesi-icin-fetoculer-kullanilmistir-15-temmuz-sonrasinin-ilk-adimlari-atilmistir-oyleyse-istanbulda-secimler-yenilenmeli-2049881, diakses pada tanggal 3 April 2019.

[3] BARBAROSOĞLU, Fatma, “İşte Bu Andan Geriye Kalan Nedir?”, Yeni Şafak, 2019.

[4] Meryem Ilayda Atlas, “AK Parti Shape General Trends of Both Opposition, Society”, Daily Sabah, https://www.dailysabah.com/columns/meryem-ilayda-atlas/2019/04/01/ak-party-shapes-general-trends-of-both-opposition-society, diakses pada tanggal 3 April 2019.

[5] Untuk melihat hasil akhir Pemilihan Daerah Turki 29 Maret 2009 secara lengkap anda dapat mengunjungi, http://secim2009.sabah.com.tr/

[6] Terkait tentang kebijakan liberalisasi ekonomi dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi dapat dilihat di Şerife Özşahin, “Türkiye Ekonomisinde Finansal Liberalizasyon ve Ekonomik Büyüme Etkileşimin ARDL Yöntemi ile Analizi”, Selçuk Üniversitesi İİBF Sosyal ve Ekonomik Araştırmalar Dergisi, Konya, h. 379-413, John Williamson, Molly Mahar, Finansal Liberalizasyon Üzerine Bir İnceleme, Ankara: Liberte Yayınları, 2002.

[7] Terkait pembangunan asimetris yang terjadi di Turki anda apat membaca, Zafer Kalkınma Ajansı, 2014-2023 Bölge Planı III. Cilt Mevcut Durum Raporu,


fwachidFatchul Wachid, B.A. – fwachid@turkid.org

Researcher on Ottoman Economy, General Coordinator of TURKID Turkish-Indonesian Foundation for Academic Research and Development, Former President of Indonesian Student Association in Turkey.