Refleksi Pemilihan Daerah Ulang Istanbul 23 Juni 2019

2425927_810x458

Periode 2018-2019 merupakan kondisi politik yang melelahkan bagi masyarakat Turki. Pada pertengahan tahun 2018 masyarakat Turki menghadapi Pemilihan Umum (General Election) yaitu memilih presiden dan anggota parlemen. Sedangkan pada awal tahun 2019 masyarakat Turki menghadapi Pemilihan Daerah (Local Election) serentak yaitu dengan memilih kepala daerah dari tingkat tertinggi hingga tingkat terendah yaitu muhtar atau camat. Dalam periode ini, masyarakat Turki hidup dalam hiruk pikuk politik yang dampaknya terasa sekali ke dalam kehidupan sosial dan salah satunya adalah polarisasi. Dengan berakhirnya Pemilihan Daerah 2019 ini, terutama Pemilihan Daerah Istanbul 2019 yang diulang, masyarakat Turki dapat bernafas lega, melupakan segala ketegangan dan hiruk pikuk periode politik, karena empat tahun kedepan tidak akan dilaksanakan Pemilihan Umum atau Pemilihan Daerah.

Setidaknya ada dua hal yang perlu masyarakat kurangi setelah pesta demokrasi berakhir. Pertama, mengurangi Hostility to the Opponet atau memusuhi lawan politik. Bahwa di dalam demokrasi terdapat berbagai partai, lebih dari satu dan mereka yang berbeda pandangan, sikap politik dan mendukung partai yang berbeda adalah lawan politik, bukanlah pengkhianat negara. Kedua, Hostility to the Neighborhood atau memusuhi para tetangga karena berbeda pandangan politik. Bahwa keberagaman yang muncul di masyarakat adalah pondasi untuk mewujudkan survivability kehidupan.

CHP Memang Berhak Menang di Kota-Kota Besar Tapi Tidak dengan Istanbul

Pada Pemilihan Daerah pada 31 Maret 2019 yang lalu, CHP (Partai Rakyat Republik) telah berhasil menang di beberapa kota besar dan penting seperti Ankara, Antalya dan Adana. CHP berhak menang, karena strategi yang mereka siapkan dalam menghadapi Pemilihan Daerah di kota-kota tersebut sudah sangat matang. Namun, kemenangan CHP dan Koalisi Nasional di Istanbul pada tanggal 31 Maret 2019 dan kemenangan CHP pada Pemilihan Daerah Istanbul yang diulang pada tanggal 23 Juni 2019 sangat berbeda.

Pada Pemilu Daerah Istanbul yang pertama pada 31 Maret 2019, Calon Wali Kota Besar Istanbul dari CHP dan Koalisi Nasional Ekrem İmamoğlu (49 tahun) unggul diatas calon dari AK Parti dan Koalisi Rakyat yaitu Binali Yıldırım (63 tahun) dengan berbagai pengalaman politik yang telah dicapainya. Ekrem İmamoğlu memperoleh 48,77% suara sedangkan Binali Yıldırım 48,61% suara.[1] Sangat tipis.

Di sini, AK Parti dan Koalisi Rakyat melalui dalil-dalil yang dimiliki mengajukan banding kepada Dewan Tinggi Pemilihan Umum (YSK) agar dilaksanakan penghitungan ulang hasil Pemilihan Daerah Istanbul, namun CHP dan Koalisi Nasional mengirimkan surat penolakan kepada Dewan Tinggi Pemilihan Umum (YSK) atas diadakannya penghitungan ulang hasil Pemilihan Daerah Istanbul. Sebenarnya jika penghitungan ulang hasil Pemilihan Daerah Istanbul diadakan pada minggu pengajuan banding, para analis politik mengatakan bahwa 90% suara yang ‘dianggap’ tidak sah adalah suara milik Binali Yıldırım, dan Binali Yıldırım kemungkinan besar dapat memenangkan Pemilihan Daerah Istanbul pada 31 Maret 2019. Namun Dewan Tinggi Pemilihan Umum memutuskan dilakukan pemilihan ulang (bukan penghitungan ulang-red) yang dilaksanakan pada 23 Juni 2019, dimana hasil pemilu demokratis tersebut menyatakan bahwa Ekrem İmamoğlu terpilih menjadi Wali Kota Besar Istanbul, mengalahkan perolehan suara Binali Yıldırım.[2]

Dalam acara debat yang dilaksanakan pada 16 Juni 2019 yang dihadiri oleh kedua belah pihak dan menjadi pertemuan bersejarah bagi Ekrem İmamoğlu dan Binali Yıldırım setelah kurang lebih selama 20 tahun tidak saling berjumpa. Binali Yıldırım dengan tegas mengatakan kepada Ekrem İmamoğlu, “Para pendukung CHP dan İmamoğlu tidak perlu mengeluh mengapa YSK memutuskan untuk diadakan pemilihan ulang kepada AKP. AKP sudah jelas mengajukan agar dilakukan penghitungan ulang suara namun CHP mengiri surat penolakan dan YSK mengabulkan surat tersebut. Jika CHP tidak menolak keinginan AKP maka pemilihan ulang tidak akan pernah terjadi.”[3]

1560838307836-wer-wg
Ekrem İmamoğlu dan Binali Yıldırım Akhirnya Bertemu Setelah 20 Tahun dalam Seçim Özel.

Dengan melihat dinamika yang terjadi dalam Pemilihan Daerah Istanbul yang diulang pada tanggal 23 Juni 2019 ini, sebenarnya kita melihat dua kemungkinan yang akan terjadi. Pertama, Binali Yıldırım terpilih menjadi Wali Kota Besar Istanbul. Jika Binali Yıldırım lah yang terpilih pada pemilihan ulang ini, maka ada beberapa penyebab utama antara lain: Binali Yıldırım memiliki kapasitas yang lebih berpengalaman dibanding Ekrem İmamoğlu dan kampanye ini terlihat lebih massive dilakukan pada masa kampanye pemilihan ulang setelah tanggal 31 Maret; Para pemilih AK Parti yang sebelumnya terlihat santai karena merasa diatas angin menjadi lebih bergerak dan terorganisir karena adanya kesempatan pemilihan ulang; para pemilih Kurdi selalu menjadikan partai-partai Islamist seperti Refah Partisi, Saadet Partisi dan AK Parti sebagai pilihan kedua mereka setelah HDP, jika pemilih Kurdi percaya terhadap kampanye AK Parti terutama kecurangan yang terjadi pada Pemilihan Daerah maka suara pemilih Kurdi dapat berpindah ke kubu Binali Yıldırım; AK Parti memiliki waktu yang lebih lama untuk menjatuhkan lawan politiknya.

Kedua, Ekrem İmamoğlu terpilih menjadi Wali Kota Besar Istanbul. Jika Ekrem İmamoğlu lah yang terpilih, maka penyebab utamanya adalah karena masyarakat melihat bahwa Ekrem İmamoğlu terdzalimi dengan tuduhan melakukan kecurangan oleh AK Parti, apalagi Ekrem İmamoğlu beberapa hari sempat menjabat sebagai Wali Kota Besar Istanbul. Masyarakat menganggap AK Parti telah medzalimi Ekrem İmamoğlu. Oleh sebab itu, bukan tidak mungkin para pemilih AK Parti akan berpindah ke pihak Ekrem İmamoğlu; Seminggu sebelum pemilihan ulang dilaksanakan Turki diguncang isu besar yaitu pernyataan salah satu tokoh Kurdi yang mendukung gerakan separatis Kurdistan untuk memilih dan mendukung Binali Yıldırım. Hal ini dapat membuat para pemilih Binali Yıldırım pada 31 Maret 2019 dari kalangan ultranasionalis (MHP) marah dan mengalihkan suaranya kepada Ekrem İmamoğlu; Dalam beberapa periode ini AK Parti dan kader-kadernya sering menggunakan kalimat othering people atau ‘mereka bukan bagian dari kita (bahkan penkhianat negara)’ kepada para pemilih yang berbeda pilihan. Jika kalimat-kalimat othering ini dilontarkan kepada calon tersebut, akan lebih terlihat sebagai strategi politik; Para pendukung Ekrem İmamoğlu merasa yakin bahwa AK Parti telah haus kekuasaan sehingga melakukan apapun termasuk mengulang pemilihan daerah agar Istanbul dikuasai oleh mereka (meskipun yang diinginkan AK Parti bukan pemilihan ulang, tetapi penghitungan ulang dan keputusan pemilihan ulang tidak terjadi jika CHP tidak menolak penghitungan ulang), mereka yakin jika pada 31 Maret 2019 yang lalu Ekrem İmamoğlu bisa menang maka pada 23 Juni 2019 Ekrem İmamoğlu juga akan menang.

bos-detay-2-2_16_9_1560168521
Ekrem İmamoğlu, Walikota Besar Istanbul yang terpilih pada Pemilihan Daerah 2019 Istanbul

Dalam analisis sebelumnya, kami menyebutkan bahwa Ekrem İmamoğlu memiliki kekuatan besar untuk menarik suara kelompok Islamis karena karakter personalnya yang dekat dengan agama Islam walaupun berasal dari kubu CHP. Hal ini juga dikemukakan oleh Financial Times dalam artikelnya yang berjudul “İmamoğlu’ Battle to Lead Istanbul Energises Turkey’s Opposition” bahwa terdapat perbedaan yang mencolok antara prinsip CHP yang sekuler dengan bahasa politik yang dimiliki oleh Ekrem İmamoğlu. Bahkan İmamoğlu sendiri tidak jarang hadir ke majelis berbuka puasa, membaca al-Qur’an di bulan Ramadhan dan hadir ke kawasan-kawasan Islamis. Kemenangan Ekrem İmamoğlu dari kubu CHP dan Kaolisi Nasional dalam Pemilihan Daerah Istanbul merupakan salah satu titik balik kritis (critical turning point) dalam sejarah perpolitikan Republik Turki.[4]

TURKID Infografi Pemilu

Kekuatan Politik AK Parti dan Kekuatan Sosiologis Masyarakat Istanbul

Kekalahan Binali Yıldırım dan AK Parti pada pemilihan ini membuat banyak pihak yang tercengang. Meskipun banyak akademisi dan pengamat politik yang sudah memprediksi bahwa pertarungan kembali antara Ekrem İmamoğlu dan Binali Yıldırım dengan melihat situasi yang terus berkembang akan dimenangkan oleh Ekrem İmamoğlu jauh sebelum tanggal 23 Juni 2019. Setelah kita menganalisis kondisi politik yang terjadi pada Pemilihan Daerah Istanbul 31 Maret dan pemilihan ulang yang dilaksanakan pada 23 Juni 2019. Kita dapat menyimpulkan bahwa pergeseran pemilih AKP dan Saadet Partisi ke kubu CHP bukanlah sebuah pergeseran kekuatan politik namun lebih dikarenakan kondisi sosiologis masyrakat Istanbul.

Berikut kami lampirkan sebuah video reportase yang dilakukan oleh salah satu media Istanbul Medyascope TV sehari setelah Pemilihan Daerah Istanbul selesai di kawasan Eyüpsultan yang merupakan kawasan Islamis. Dengan melihat video reportase ini, kita dapat mengetahui kondisi sosiologis masyarakat Istanbul pada Pemilihan Daerah Istanbul yang diulang pada tanggal 23 Juni 2019. Dengan melakukan reupload video ini tidak berarti TURKID mendukung dan bekerjasama dengan Medyascope TV Istanbul.

Masyarakat Turki di dua kota besar Ankara dan Istanbul tidak meninggalkan Recep Tayyip Erdoğan atau tidak meninggalkan sepenuhnya. Apapun itu, kita bisa menyimpulkan bahwa di dua kota ini masyarakat tidak dengan sepenuh hati memilih AK Parti. Dalam Pemilihan Daerah 2019 AK Parti masih terlihat stagnan berada pada 40% perolehan suara bahkan dengan dukungan dari MHP. Hal ini terlihat karena kelompok Islamis yang menjadi target AK Parti sudah mulai mencari alternatif lain selain AK Parti pada pemilihan-pemilhan ini dan berikutnya, meskipun itu adalah CHP.

Lampu AK Parti Belum Pecah

Bagi AK Parti kekalahan pada Pemilihan Daerah Istanbul dan beberapa kota besar seperti Ankara, Antalya dan Adana merupakan hal tidak menguntungkan bagi mereka untuk mempersiapkan jalan menuju visi AK Parti 2023. Namun, perlu diingat bahwa pada Pemilihan Daerah 2019 secara keseluruhan baik untuk wali kota besar hingga camat AK Parti dan Koalisi Rakyat masih unggul jauh di atas CHP dan Koalisi Nasional. AK Parti berkoalisi dengan MHP mampu merebut kantong-kantong suara HDP yaitu masyarakat Kurdi di Tenggara Turki. Dalam Pemilihan Umum, kursi parlemen dan kepala negara pun masih dikuasi oleh AK Parti. Dan selama 4 tahun yang akan datang, masing-masing akan berlomba untuk membuktikan siapa yang lebih layak untuk mengurus negara dan membangkitkan kedaulatan Turki.

iste-dunden-bugune-cumhurbaskani-recep-tayyip-erdogan-in-yasami-ve-siyasi-kariyeri_11519646867
Presiden AK Parti, Recep Tayyip Erdoğan pada tahun 2002.

Namun, perlu kita ingat kembali bahwa cerita heroik Recep Tayyip Erdoğan sebagai seorang politisi yang diakui kehebatannya oleh tokoh-tokoh dunia berawal dari karier beliau sebagai wali kota besar Istanbul. Dan salah satu faktor utama yang menjadikan AK Parti berhasil berkuasa sejak tahun 2002 adalah perpaduan kekuatan antara Istanbul dan Ankara.

AK Parti tidak kalah dalam Pemilihan Daerah Istanbul, tetapi AK Parti versi 2019 lah yang mengalami kekalahan pada Pemilihan Daerah Istanbul.[5] AK Parti 2000 berbeda dengan AK Parti 2019, perbedaan tersebut terlihat hingga tercermin dalam perolehan suara AK Parti pada Pemilihan Daerah ini terutama Ankara dan Istanbul. Lepasnya Ankara dan Istanbul memberikan isyarat kepada AK Parti untuk kembali kepada spirit dan visi AK Parti 2000.

AK Parti 2000 adalah sebuah partai yang merangkul semua pihak, menjadi partai yang dimiliki oleh semua orang. Hingga AK Parti dihadang dengan tekanan media dan ekonomi. Namun, pemenangnya adalah AK Parti. Namun, seiring berjalannya waktu AK Parti meninggalkan teman-temannya satu demi satu. Mereka yang tidak satu pemikiran dengan AK Parti. Mungkin AK Parti berpikir bahwa mereka akan mampu bertahan dengan kekuatan media dan finansial yang dimiliki sekarang.

Waktunya untuk Kembali Berkhidmat

Dalam Pemilihan Daerah 2019 ini, AK Parti melalui lagu-lagu kampanyenya memiliki pesan yang kuat kepada para pemilih terutama para pemilih baru. Sebuah pesan agar tidak hanya menilai kondisi Turki pada hari ini namun bagaimana perjalanan negara Turki ketika mereka belum terlahir di dunia. Apa yang AK Parti telah lakukan dan apa yang mereka lakukan untuk Turki. AK Parti ingin menyadarkan bahwa dalam Pemilihan Daerah ini, Turki seperti sedang menghadapi perang Balkan. Dimana semua musuh, Inggris, Rusia, Eropa bersatu untuk meruntuhkan Turki. Dalam Pemilihan Daerah 2019 ini, Turki melawan kekuatan asing, FETO, PKK dan para pengkhianat negara.

Tidak akan ada pemilihan lagi hingga empat tahun mendatang. Ini adalah waktu bagi AK Parti untuk serius memperbaiki kualitas spritual dan moral anak-anak bangsa Turki. Jika yang dikeluhkan oleh para kader AK Parti di level universitas dan kota adalah, “Kenapa mereka mudah lupa apa yang telah Barat dan CHP lakukan kepada Turki? Kenapa mereka mudah dibeli dengan isu-isu murahan yang dibentuk oleh Barat dibanding dengan mempertahankan kedaulatan negara dan Islam?”

Terkadang, masyarakat perlu hidup dalam sebuah peristiwa agar mengerti mengapa peristiwa tersebut tidak diinginkan.

AK Parti perlu mengajak masyarakat untuk lebih serius membina keluarga untuk taat kepada Allah. Karena apa yang menjadi problematika pada hari ini adalah anak-anak kecil dan remaja yang tidak pernah membaca al-Qur’an dan tidak sholat ke masjid, wanita-wanita yang berjilbab namun merokoh bahkan berzina. Karena yang menjadi permasalahan adalah banyaknya kader-kader AK Parti muda yang masih belum memahami apa visi besar yang diperjuangkan oleh Recep Tayyip Erdoğan.

2237881_810x458
Presiden AK Parti Recep Tayyip Erdoğan Memimpin Rapat Fraksi AK Parti.

Jika AK Parti ingin mempertahankan kekuatannya, maka AK Parti perlu mempertahankan ideologi keadilan, intelektual dan keislamannya mulai dari institusi keluarga para pendukung dan masyarakat. Di dalam struktur organisasi dan dalam pemerintahannya. AK Parti 2019 segera dievaluasi dan diakhiri, lalu kembali kepada semangat dan visi AK Parti 2000.

Seperti yang dikatakan oleh Recep Tayyip Erdoğan dalam balcoon speech[6] yang disampaikan pada 31 Maret 2019 tengah malam setelah diumumkannya hasil Pemilihan Daerah di berbagai wilayah, “Kelemahan yang ada pada Pemilihan Daerah ini, akan kita evaluasi dan akan kita perbaiki bersama-sama.” Erdoğan juga menambahkan dalam Rapat Fraksi AK Parti pada 25 Juni 2019, “Bahwa kemenangan kita di Pemilihan Daerah ini tidak lengkap dengan lepasnya Ankara dan Istanbul. Namun, dalam prinsip AK Parti kita tidak berhak menyalahkan rakyat. Yang harus kita evaluasi adalah mengapa kita tidak bisa menyampaikan sepenuhnya kepada rakyat tentang perjuangan kita.”[7] Sekarang adalah waktu untuk menghisap diri bagi AK Parti, lampu masih menyala.


Daftar Istilah:

  • Yüksek Seçim Kurulu (YSK); Dewan Tinggi Pemilihan Umum Republik Turki.
  • Cumhuriyet Halk Partisi (CHP); Partai Rakyat Republik, partai sayap sekuler.
  • Adalet ve Kalkınma Partisi (AKP); Partai Keadilan dan Pembangunan.
  • Milliyetçi Hareket Partisi (MHP); Partai Gerakan Nasionalis, partai sayap ultranasionalis.
  • Millet İttifakı (The Nation Alliance); Koalisi Nasional merupakan koalisi yang dibentuk oleh CHP, İyi Parti.
  • Cumhur İttifakı (The People’s Alliance); Koalisi Rakyat merupakan koalisi yang dibentuk oleh AK Parti, MHP.

Referensi:

BEYAZAY, İshak, Erbakan Ne İstedi Erdoğan Ne Yaptı, Apsis Kitap Publisher, 2018.

BOSTAN, Yahya, “What is Turkey’s Post-Election Agenda?”, Daylisabah, 2019.

KAPLAN, Hilal, “Emin Olduğum Şey”, Sabah, 2019.

KILIÇARSLAN, İsmail, “Bu Seçim Ben Kaybettim”, Yenişafak, 2019.

MİŞ, Nebi, “Belediyeciliğin Yeni Kodları”, Kriter Siyaset, Toplum ve Ekonomi Dergisi, 31/3, SETA Research Foundation, Istanbul, 2019, pp. 31-34.

ÖCAL, Hakkı, “Reflections on the Istanbul Election Results”, Daylisabah, 2019.

ÖZER, Sencar, “AKP Neden Kaybetti, CHP Neden Kazanamadı”, Aljazeera Türk, 2015.


[1] Perolehan suara pada Pemilu Daerah Istanbul 31 Maret 2019 dan Pemilu Daerah Istanbul ulang yang dilaksanakan pada 23 Juni 2019 dapat dilihat di http://secim.aa.com.tr/#tr, diakses pada tanggal 25 Juni 2019.

[2] Anda dapat membaca analisis Pemilihan Daerah Istanbul 31 Maret (Pemilu Daerah Istanbul sebelum diulang) yang ditulis oleh Fatchul Wachid, B.A. (General Coordinator TURKID) selengkapnya melalui https://turkid.org/2019/04/03/analisis-kemenangan-ak-parti-dalam-pemilihan-daerah-turki-31-maret-2019/, diaksses pada tanggal 25 Juni 2019.

[3] Tayangan debat antara Ekrem İmamoğlu dan Binali Yıldırım secara lengkap dapat dilihat melalui https://www.youtube.com/watch?v=4v-cmGAej78, diakses pada tanggal 24 Juni 2019.

[4] Beberapa Critical Turning Point menurut Dr. Ali BALCI dalam perpolitikan Republik Turki setelah tahun 1980 antara lain, pemberontakan pertama PKK (1984); Pemilihan Kepala Daerah (1994); Kudeta Militer (1997); Pemilihan Umum (2002); Memorandum Militer (2007); Peristiwa Demonstrasi Gezi (2013); Isu Korupsi Erdoğan dan Pemberontakan Aparat Kepolisian FETÖ (2013); Peristiwa Percobaan Kudeta yang Gagal 15 Juli (2016); Kemenangan CHP dalam Pemilihan Daerah Istanbul (2019).

[5] Pendapat ini juga dinyatakan oleh mantan Ketua Dewan Pengurus Wilayah Ankara AK Parti yang sekarang berada di kubu Ahmet Davutoğlu, Mustafa Nedim Yamalı. Pernyataan tersebut dapat dibaca melalui https://www.yeniakit.com.tr/haber/ak-parti-neden-kaybetti-sorusunu-boyle-cevapladi-elestiriler-duyulmazsa-bugunleri-arariz-811620.html, diakses pada tanggal 24 Juni 2019. Anda juga dapat membaca kelemahan-kelemahan AK Parti dalam Pemilihan Daerah 2019 ini di analisis kami sebelumnya yang dapat dibaca melalui https://turkid.org/2019/04/03/analisis-kemenangan-ak-parti-dalam-pemilihan-daerah-turki-31-maret-2019/, diaksses pada tanggal 25 Juni 2019.

[6] Balcony speech Presiden Recep Tayyip Erdoğan secara lengkap dapat dilihat melalui channel Anadolu Agency https://www.youtube.com/watch?v=yf4DUKSaPtQ, diakses pada tanggal 25 Juni 2019.

[7] Pernyataan Recep Tayyip Erdoğan dalam Rapat Fraksi AK Parti pada 25 Juni 2019 dapat dilihat melaui kanal youtube resmi AK Parti https://www.youtube.com/watch?v=E284WN8EI_Y, diakses pada tanggal 25 Juni 2019.


fwachidFatchul Wachid, B.A. – fwachid@turkid.org

Researcher on Ottoman Economy, General Coordinator of TURKID Turkish-Indonesian Foundation for Academic Research and Development, Former President of Indonesian Student Association in Turkey.

Analisis Kemenangan AK Parti Dalam Pemilihan Daerah Turki 31 Maret 2019

0x0-cumhurbaskani-erdogan-devlet-bahceli-ile-gorustu-1478183575939

Turki telah melewati banyak hal dalam beberapa tahun terakhir tetapi Ankara tidak pernah membiarkan serangan teror, percobaan kudeta atau tekanan lainnya mampu membuat para pemilih untuk tidak pergi ke tempat pemungutan suara. Tidak peduli dengan apa yang dikatakan media internasional tentang Turki atau bagaimana orang-orang di seluruh dunia memandang negara Turki, mencemarkan nama baik Turki. Ada komitmen yang besar dalam diri rakyat Turki dan rasa hormat mereka terhadap demokrasi. Bahkan, pada pesta demokrasi yang dilaksanakan dalam lima tahun terakhir semakin mampu membuka jalan pikiran masyarakat tentang kondisi internal dan eksternal Turki.

Pemilihan Daerah biasanya memiliki dua peran utama dalam demokrasi: Pertama, Pemilihan Daerah mencerminkan tuntutan dan apresiasi pemilih kepada pemerintahan daerah. Kedua, Pemilihan Daerah juga berfungsi sebagai penguji tingkat kepuasan pemilih atas kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah pusat. Oleh sebab itu, Pemilihan Daerah menjadi sarana para pemilih untuk menyampaikan sinyal dan pesan yang kuat kepada pemerintah pusat, dengan cara memilih walikota hingga unit administrasi tingkat terendah yaitu, camat (kepala mahalle).

TURKID Infografi Pilkada

Hingga tahun 1980 peran pemerintah daerah tidak memiliki pengaruh dan kepentingan yang nyata karena anggaran yang dialokasikan untuk pemerintah daerah sangatlah rendah. Pemerintah daerah yang ingin membangun proyek-proyek penting harus memiliki hubungan yang baik dengan pemerintah pusat agar memperoleh anggaran yang relevan. Sejak diberlakukannya kebijakan liberalisasi ekonomi Turki, pemerintah daerah mulai menunjukkan peran mereka dalam pembangunan negara.[1]

Pada hari ini, kedudukan pemerintah daerah sangat penting di Turki. Bukan karena besarnya pendapatan langsung (direct revenues) yang dimiliki oleh pemerintah kota metropolitan seperti Istanbul dan Ankara, namun kedudukan pemerintah daerah memiliki posisi penting dikarenakan pembangunan daerah yang asimetris di negara tersebut. Kondisi pembangunan yang asimetris dapat dilihat pada gambar di bawah ini.[2]

gigit

Baiknya kinerja pemerintahan Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Parti) di sektor ekonomi sejak tahun 2002 memberikan banyak keuntungan dalam setiap Pemilihan Daerah. Kecuali pada Pilkada 2009 dimana performa perekonomian Turki tidak baik setelah terjadinya krisis keuangan global di tahun 2008. Dalam Pemilihan Daerah 2009 Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Parti) mendapatkan suara terendah mereka yaitu kurang dari 39%, namun AK Parti masih berhasil memegang kota-kota metropolitan.[1]

Pada Pemilihan Daerah tahun ini, krisis ekonomi yang dihadapi oleh Turki semakin dalam dan pemulihan perekonomian negara ini memerlukan waktu yang tidak sebentar. Hal ini memberikan motivasi kepada para oposisi untuk melakukan manufer politik. Anti-Erdoğan di dalam dan di luar Turki tentu saja selalu mencoba memanfaatkan momen pemilihan untuk menurunkan Recep Tayyip Erdoğan dengan segala cara. Hal tersebut juga terlihat dalam Pemilu Daerah 2019 ini namun usaha yang mereka lakukan tidak berhasil.

Sama seperti pada Pemilihan Umum 24 Juni 2018, dua koalisi muncul ke permukaan selama periode kampanye. Pertama, Cumhur İttifakı atau Koalisi Rakyat yang dibentuk oleh Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Parti) yang dipimipin oleh Erdoğan dan Partai Nasionalis Konservatif (MHP) yang dipimpin oleh Devlet Bahçeli. Kedua, Millet İttifakı atau Koalisi Bangsa yang dibentuk oleh partai sayap kanan Partai Republik Rakyat (CHP) yang dipimpin oleh Kılıçdaroğlu dan partai sayap kanan İyi Parti (İP) yang dipimpin oleh Meral Akşener. Koalisi ini secara tidak langsung didukung oleh Partai Demokrasi Rakyat (HDP) yang pro terhadap gerakan teroris Kurdistan (PKK).

Kedua aliansi ini bekerja sangat keras dalam pemilihan kali ini. Meskipun yang dilaksanakan pada tanggal 31 Maret 2019 yang lalu adalah Pemilihan Daerah, atmosfer yang tercipta justeru seperti suasana Pemilihan Umum. Banyak lembaga survei yang mengatakan bahwa perolehan suara antara dua koalisi atau aliansi ini sangatlah dekat. Banyak pemilih muda dan banyak para pemilih yang belum menentukan pilihannya (swing voters).

Dapat dilihat bahwa para swing voters merasa ragu-ragu melihat masa lalu Turki yang suram dan kemudian harus melihat masa depan dengan menentukan pilihan untuk memenangkan satu diantara dua koalisi. Semuanya tergantung kepada performa para pemimipin dan politisi besar terhadap apa yang dijanjikan kepada mereka.

Sangat disayangkan Pemilihan Daerah yang seharusnya menjadi ajang untuk berdiskusi dan beradu gagasan tentang pengelolaan kota, pihak oposisi atau Koalisi Bangsa (CHP dan İyi Parti) menjadikan momen Pemilihan Daerah ini sekali lagi sebagai upaya untuk menumbangkan Recep Tayyip Erdoğan ke arah referendum.

Hubungan naik turun antara Turki dan Amerika Serikat telah memberikan dampak yang besar bagi perekonomian Turki. Amerika Serikat memberikan sanksi-sanksi yang tidak terduga sehingga menyebabakan kerugian yang besar bagi mata uang Turki. Setelah kembali stabil, serangan yang tidak terduga juga kembali dilancarkan terhadap perekonomian Turki sehingga membuat banyak orang tidak dapat memprediksi kondisi ekonomi di masa depan. Resesi dunia juga memberikan dampak masyarakat untuk tidak bisa berpikir positif tentang masa depan.

Pihak oposisi menggunakan situasi yang membingungkan ini untuk menyerang Koalisi Rakyat yang dipimipin oleh Recep Tayyip Erdoğan dan Devlet Bahçeli. AK Parti selalu mencoba meyakinkan rakyat Turki bahwa masalah ini dapat dilalui bersama-sama dengan memberikan data-data terhadap pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Turki masa lalu dan hari ini. Bagi AK Parti masalah yang paling besar yang dihadapai oleh Turki bukanlah masalah ekonomi namun ancaman serangan aktor-aktor global terhadap Turki seperti serangan ekonomi Amerika Serikat kepada Turki. Amerika Sertikat juga mendukung Partai Unit Demokrat (PYD) dan unit bersenjatanya YPG salah satu cabang gerakan teroris Kurdistan PKK di Suriah. Bagi Koalisi Rakyat hal ini menjadi ancaman nasional dan ancaman terhadap eksistensi negara.

Hal ini lah yang menyebabkan HDP tidak dapat menjadi bagian dari Koalisi Bangsa yang dimotori oleh Partai Republik Rakyat (CHP) dan İyi Parti. Karena HDP adalah partai yang pro terhadap agenda gerakan teroris Kurdistan (PKK). Namun di lapangan HDP secara totalitas mendukung kolaisi ini untuk memenangkan kota-kota besar seperti Ankara dan Istanbul. Hal ini menyebabkan banyaknya anggota atau calon walikota dari Koalisi Bangsa yang mengundurkan diri dari pencalonan bahkan dari keanggotaan karena menganggap bahwa kerjasama “rahasia” ini menyalahi etik dalam demokrasi.

Beberapa masalah yang tidak dihadapi oleh AK Parti pada Pemilihan Daerah 2014 yang lalu namun terjadi pada pemilihan kali ini. Contohnya adalah hampir semua pihak berjanji tentang pengurusan hewan jalanan di kota-kota besar seperti Istanbul. Meningkatnya urbanisasi dalam beberapa tahun terakhir telah merubah beberapa aspek dalam gaya hidup masyarakat Istanbul. Salah satunya adalah meningkatnya rumah hunian pribadi (non-apartemen) dan kepemilikan hewan peliharaan. Hal ini menjadi masalah terbesar kedua setelah masalah pembangunan infrastruktur negara tersebut.[1]

Masalah serius lainnya adalah janji-janji klasik tentang emansipasi dan pemberdayaan perempuan, seperti tentang prasekolah. Hampir semua partai berjanji akan menyediakan pendidikan bagi para wanita yang bekerja maupun yang tidak bekerja untuk meningkatkan softskill yang dimilikinya. Hal ini dianggap sebagai salah satu cara untuk menyelesaikan berbagai masalah sosial yang ada di dalam institusi keluarga dan masyarakat.

Topik-topik seperti prasekolah dan hak-hak hewan muncul sebagai topik diskusi dalam Pemilihan Daerah tahun ini. Ini merupakan indikator bahwa level “kebutuhan” masyarakat di negara tersebut sudah tidak lagi tentang pembangunan infrastruktur, pembuangan dan pengumpulan sampah di kota-kota atau ketersediaan air bersih.

Sedangkan retorika partai oposisi yang satu sama lainnya memiliki kemiripan adalah tentang pengungsi Suriah di negara itu. Meskipun ini adalah Pemilihan Daerah, sebanyak 3.6 juta pengungsi Suriah berhak memberikan suara dan suara tersebut mereka berikan untuk AK Parti. Hal ini yang dikritisi oleh pihak oposisi seperti CHP. Kondisi ekonomi Turki yang semakin tertekan dalam beberapa bulan terakhir secara aktif meningkatkan sentimen anti-Suriah dan anti-asing dan hal ini akan terus berkembang. Misalkan di dalam salah satu spanduk kampanye yang dilakukan oleh kandidat dari İyi Parti di distrik Fatih bertuliskan, “Tidak akan kami berikan distrik Fatih ini ke tangan rakyat Suriah”.

D1n4ASqWoAA_pGN
Gambar diambil dari akun resmi DPD İyi Parti Distrik Fatih, İstanbul.

Meskipun spanduk tersebut pada akhirnya ditarik kembali namun tidak ada pernyataan resmi tentang permintaan maaf kepada para imigran Suriah. Memang, masalah imigran menjadi salah satu isu penting di Barat. Namun, apa yang dilakukan oleh İyi Parti imigran Suriah di Turki tidak mampu diterima oleh masyarakat Turki pada umumnya. Keluhan masyarakat Istanbul tentang para pengungsi Suriah tidak memiliki refleksi di kotak suara dan ini berarti pemilih masih menganggap masalah imigran Suriah adalah tentang kemanusiaan bukan ancaman dan masalah keamanan.

Selain perdebatan masalah pembangunan sosial dan infrastruktur kota, hal lain yang mengubah arah kampanye dalam Pemilihan Daerah ini adalah masalah identitas. Ketegangan yang muncul di pesta demokrasi kali ini adalah karena terciptanya dua kutup pada referendum yang lalu. Dengan kata lain, retorika dan argumen yang dikemukakan dalam kampanye untuk Pemilihan Parlemen kini telah menjadi bagian dari Pemilihan Daerah. Dengan ini debat klasik antara Sekuler dan Islamis beberapa kali masuk ke dalam agenda untuk mendapatkan suara dari kelompok konservatif. Meskipun demikian, hal tersebut tidak ditanggapi oleh kelompok oposisi, sebaliknya CHP justeru mencoba merayu pemilih konservatif untuk meninggalkan AK Parti. Calon walikota besar Istanbul, Ekrem İmamoğlu berhasil mendapatkan kepercayaan setelah membaca al-Qur’an dengan baik di salah satu masjid di Istanbul.

AK Parti Kembali Mendominasi di Pemilihan Daerah 2019

Pada Pemilihan Daerah 2014 Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Parti) berhasil memperoleh 43.3% dan menjadi pemenang dalam pemilihan tersebut. Dalam Pemilihan Daerah 2019 kali ini, Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Parti) bersama mitra koalisinya MHP berhasil memperoleh 45% dengan kata lain meningkat 2% dan kembali keluar sebagai pemenang kontes pemilihan. Namun di kota besar Ankara dan Istanbul peta suara yang diperoleh AK Parti sangat berbeda dibandingkan dengan dikawasan lainnya.

Dengan melihat hasil ini, Koalisi Rakyat berhasil memenangkan Pemilihan Daerah yang dilaksanakan pada tanggal 31 Maret 2019. AK Parti dan Koalisi Rakyat berhasil memenangkan 778 daerah termasuk 16 diantaranya adalah kota metropolitan seperti Istanbul, 24 kota, 538 distrik dan 200 distrik kecil (belde).

Kita harus ingat bahwa perolehan 45% suara ini adalah bagian dari rangkaian keberhasilan AK Parti secara berturut-turut setelah memenangkan 14 pemilihan yang diadakan sebelumnya. AK Parti telah memenangkan enam kali Pemilihan Anggota Parlemen, empat kali Pemilihan Daerah dan satu kali Pemilihan Presiden Turki. Dan hasil Pemilihan Daerah pada Maret 2019 yang lalu tidaklah berbeda, sekali lagi masyarakat Turki menunjukkan dukungan mereka untuk AK Parti.

Partisipasi rakyat dalam Pemilihan Daerah 2014 sebelumnya sangatlah tinggi yaitu 89%, dan pada Pemilihan Daerah 2019 kondisi tersebut tidaklah berubah, partisipasi rakyat tercatat 84%. Dibandingkan dengan Pemilihan Daerah 2019, Pemilihan Daerah 2014 dianggap sebagai masa kritis bagi AK Parti karena di tahun 2013 terjadi peristiwa Gezi Park. Mereka juga diancam dengan tuduhan peristiwa 17 Desember yang dilakukan oleh kelompok teroris Gülenist (FETÖ) yang telah menyusup ke institusi pengadilan. Pada saat itu, kelompok oposisi percaya bahwa AK Parti akan kehilangan dukungan dan berharap 12 tahun kemudian kekuasaan tunggal AK Parti dan Recep Tayyip Erdoğan berakhir.

Keberhasilan yang diraih oleh AK Parti adalah sebuah keberhasilan beruntun dan tidak pernah terputus. AK Parti telah menguji kekuatannya dalam kotak suara berkali-kali selama lima tahun terakhir dan hasilnya adalah bahwa masyarakat masih mendukung AK Parti dan Recep Tayyip Erdoğan berkuasa dan memberikan mosi percaya.

Hasil Pemilihan Daerah yang penting dan perlu kita catat adalah kemenangan AK Parti dan Koalisi Rakyat di kota-kota yang mayoritas penduduknya adalah orang-orang Kurdi. Bahkan Partai Demokrat Rakyat (HDP) yang menjadi boneka organisasi teroris separatis PKK tidak dapat mendapatkan dukungan dari masyarakat Kurdi. Masyarakat Kurdi yang hidup menderita karena terorisme PKK memilih AK Parti. AK Parti berhasil memenangkan kota Ağrı, Muş, Şanlıurfa, Adıyaman, Malatya dan Şırnak dengan kemenangan besar.

Selama 4.5 tahun ke depan Turki tidak akan melaksanakan pesta demokrasi. Disamping itu sistem presidensial juga akan disempurnakan. Pada Pemilihan Daerah tanggal 31 Maret 2019 Recep Tayyip Erdoğan bersama Koalisi Rakyat telah memenangkan dukungan dari rakyat Kurdi. Setelah ini Recep Tayyip Erdoğan dan MHP akan fokus untuk mencapai target 2023 dalam pertumbuhan ekonomi, pembangunan dan lainnya.

Analisis Kelemahan AK Parti di Pemilihan Daerah 2019

Bagaimana pun seperti yang kita dengar dari berbagai media baik yang dekat dengan pemerintahan Erdoğan maupun yang menjadi alat propaganda pihak oposisi disebutkan bahwa Istanbul memiliki kemungkinan untuk jatuh ke tangan Koalisi Bangsa yang dimotori oleh CHP. Erdoğan dan AK Parti sedang mengajukan gugatan dengan berbagai bukti yang telah dikumpulkan bahwa terjadi kecurangan secara besar-besaran yang dilakukan oleh Koalisi Bangsa.

Dalam pidato resmi Erdoğan pada malam penghitungan suara di kantor DPP AK Parti, Ankara, Erdoğan berkata, “Kita akan mencari tahu apa saja kelemahan kita dan setelah itu kita akan evaluasi demi masa depan yang lebih baik”[1] Oleh sebab itu kami ingin menyampaikan beberapa kelemahan AK Parti dalam Pemilihan Daerah 31 Maret 2019.

Pertama, perlu kita ketahui bahwa periode “impor calon” dari partai luar AK Parti telah selesai di beberapa kota besar seperti Istanbul, Ankara dan Izmir. Semuanya berasal dari anggota AK Parti. CHP pun mencalonkan anggotanya di kota-kota tersebut. Namun, dengan berakhirnya Pemilihan Daerah ini kita dapat mengetahui dengan jelas bahwa AK Parti melakukan kesalahan dalam memilih calon yang berasal dari luar AK Parti. Contohnya adalah kekalahan AK Parti di Yozgat.

Kedua, AK Parti identik dengan pembangunan dan sering menyalahkan lawan politik mereka karena tidak memiliki rangkaian proyek pembangunan. Itu adalah strategi yang luar biasa. Setiap pembangunan yang dilakukan akan mengubah gaya dan cara hidup masyarakat. AK Parti sering menawarkan proyek-proyek perumahan besar dan mewah seperti di Levent, di kawasan Islamis distrik Eyüpsultan. Tanpa disadari proyek-proyek itu menjadi bumerang bagi AK Parti karena masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut sedikit demi sedikit berubah arah menjadi kawasan burjuis dan tidak lagi Islamis. Dan konsisi ini mempengaruhi perolehan suara AK Parti di kawasan tersebut.

Ketiga, melemahnya militansi kader-kader baru AK Parti. Beberapa tugas kader-kader muda AK Parti adalah membuat strategi kampanye di sosial media, membuat seminar dan konferensi serta mengajak anak-anak muda untuk memahami bagaimana AK Parti bekerja dan berkhidmat untuk Turki.

Saya bertanya kepada salah satu kader AK Parti, “Camat mana yang akan kamu dukung dalam Pemilihan Daerah?” Saya menanyakan pendapatnya tentang kontestasi politik di level yang paling rendah dalam struktur administratif Turki. Kader AK Parti tersebut menjawab, “Saya tidak memilih camat berdasarkan partai, mereka sama saja”. Padahal di antara salah satu calon camat di kawasan tersebut ada yang berasal dari HDP yang pro kepada teroris PKK.

Keempat, para birokrat AK Parti sudah mulai menggunakan kata “Saya” dibanding “Kita” dalam kampanye, termasuk calon wali kota İstanbul Binalı Yıldırım sendiri. Dalam beberapa kali kampanye baik di media sosial maupun di lapangan kita dapat mendengar Binali Yıldırım sering menggunakan kata “Saya” ketika menyebutkan kemenangan dan kesuksesan namun menggunakan kata “Kita” ketika menyebutkan masalah dan keburukan.

Kelima, hubungan antara AK Parti dan Saadet Partisi yang semakin curam. Dalam Pemilihan Daerah kali ini Saadet Partisi mampu membuat kejutan dengan menang di beberapa kota tanpa masuk dalam koalisi manapun. Saadet Partisi juga mulai mendapatkan tempat di hati masyarakat. Jika anggota-anggota AK Parti masih mengakui bahwa mereka adalah bagian dari gerakan Milli Görüş dan bagian dari misi Necmettin Erbakan, AK Parti harus memperbaiki hubungan dengan Saadet Partisi dan sebaliknya untuk kepentingan ummat.

Skenario Kekuatan Asing untuk Mengambil Alih Istanbul

Sebuah skenario yang lebih dalam, lebih halus dan lebih senyap untuk mengambil alih pemerintahan Turki telah dilancarkan oleh koalisi kekuatan-kekuatan anti-Erdoğan. Sebuah skenario yang tujuannya lebih dari mengganti wali kota Istanbul telah dimulai.

İbrahim Karagül juga menyebutkan bahwa telah terjadi kudeta dalam Pemilihan Daerah kali ini. Pertama mereka akan mengambil alih Istanbul dan kemudian seluruh Turki melalui Pemilihan Daerah, bukan lagi melalui kudeta militer.[2] Kekuatan tersebut menggunakan orang-orang FETÖ, PKK dalam melaksanakan misi pada Pemilihan Daerah kali ini. AK Parti yang sebenaranya mendapatkan suara lebih dari 200 ditulis “0 (nol)” di dalam lembaran rekapitulasi suara yang akan diserahkan ke Dewan Agung Pemilihan Turki. Hal ini terjadi dimana-mana. Oleh sebab itu, Pemilihan Daerah Turki belum dapat diputuskan terutama untuk kawasan Istanbul. Berikut adalah beberapa bukti yang kami lampirkan terkait skandal pencurian suara yang terjadi di Istanbul. Ketika AK Parti mendapatkan 165 suara dan Vatan Partisi mendapatkan 1 suara, AK Parti ditulis “0” suara.

D3K26fnW0AE57kR
Gambar diambil dari DPW Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Parti) Istanbul, 2019.
D3K26fjW4AA68Yi
Gambar diambil dari DPW Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Parti) Istanbul, 2019.

Para pemimpin oposisi yang merasa terpilih juga melakukan propaganda penggiringan opini publik dengan mengubah profil mereka di media sosial sebagai wali kota atau wali kota besar yang resmi meskipun pihak Dewan Agung Pemilihan Turki belum memberikan keputusan. Dalam hal di atas Dewan Agung Pemilihan Turki telah memutuskan untuk dilakukan penghitungan ulang di beberapa distrik di Istanbul seperti Kartal, Silivri dan lainnya. Bukan tidak mungkin penghitungan ulang juga akan dilakukan di beberapa kota.

0x0-iki-ilcede-flas-gelisme-silivri-ve-kartalda-butun-oylar-yeniden-sayilacak-1554298856638
Surat keputusan penghitungan ulang untuk distrik Silivri, Istanbul yang diterbitkan oleh Dewan Agung Pemilihan Turki.

Sekarang, meskipun AK Parti dan Recep Tayyip Erdoğan dihadapkan dengan kondisi ekonomi Turki yang tertekan, rakyat masih tetap mendukung perjuangan AK Parti. Recep Tayyip Erdoğan terlihat sendirian dalam perjuangan untuk mempertahankan keutuhan negara dengan kualitas kader yang mulai jauh dari pemahaman visi AK Parti. Pemilihan Daerah dan Pemilihan Umum Turki akan selalu diwarnai dengan serangan-serangan pihak anti-Erdoğan dan anti-Muslim.[3]


Referensi:

  • ALBAYRAK, Özlem, “31 Mart Notları”, Yeni Şafak, 2019.
  • ATLAS, Meryem Ilayda, “AK Parti Shape General Trends of Both Opposition, Society”, Daily Sabah, 2019.
  • BARBAROSOĞLU, Fatma, “İşte Bu Andan Geriye Kalan Nedir?”, Yeni Şafak, 2019.
  • BARLAS, Mehmet, “Binali Yıldırım’ın Belediye Başkan Adaylığı İstanbul İçin Bir Şanstı”, Sabah, 2019.
  • BARLAS, Mehmet, “Meğer Ankara ve İstanbul Seçimlerinin Sonucunu Çok Merak Ediyorlarmış”, Sabah,
  • CEYHUN, Ozan, “Ak Party Dominates the 15th Election in Turkey”, Daily Sabah, 2019.
  • GÖNEN, Emre, “The Meaning of the 2019 Election Result”, Daily Sabah, 2019.
  • KARAGÜL, İbrahim, “31 Mart’ta Türkiye’ye Seçim Üzerinden Darbe yapılmıştır, Bir İstanbul Projesi için FETÖ’cüler kullanılmıştır, 15 Temmuz sonrasının ikl adımları atanmıştır, Öyleyse İstanbul’da seçimler yenilenmeli”, Yenişafak, 2019.
  • ORUÇ, Merve Sebnem, “The Last Election in Turkey Until 2023”, Daily Sabah, 2019.
  • ÖZŞAHİN, Şerife, “Türkiye Ekonomisinde Finansal Liberalizasyon ve Ekonomik Büyüme Etkileşimin ARDL Yöntemi ile Analizi”, Selçuk Üniversitesi İİBF Sosyal ve Ekonomik Araştırmalar Dergisi, Konya, 2004.
  • TENEKECİ, İbrahim, “Seçim Notları”, Yeni Şafak, 2019.
  • C. Zafer Kalkınma Ajansı, 2014-2023 TR33 Bölge Planı, Mevcut Durum Raporu (Taslak), Jilid III, 2016.
  • TRT World, Turkey’s President Erdoğan Adresses Supporters After Local Polls, 31 Maret 2019.
  • WILLIAMSON, John, MAHAR, Molly, Finansal Liberalizasyon Üzerine Bir İnceleme, Ankara: Liberte Yayınları, 2002.

[1] Pidato Recep Tayyip Erdoğan tentang Pemilihan Daerah tanggal 31 Maret 2019 dapat dilihat secara lengkap di TRT World, https://www.youtube.com/watch?v=l1aqCa6WgrY diakses pada tanggal 3 April 2019.

[2] İbrahim Karagül, “31 Mart’ta Türkiye’ye Seçim Üzerinden Darbe yapılmıştır, Bir İstanbul Projesi için FETÖ’cüler kullanılmıştır, 15 Temmuz sonrasının ikl adımları atanmıştır, Öyleyse İstanbul’da seçimler yenilenmeli”, Yenişafak, https://www.yenisafak.com/yazarlar/ibrahimkaragul/-31-martta-turkiyeye-secim-uzerinden-darbe-yapilmistir-bir-istanbul-projesi-icin-fetoculer-kullanilmistir-15-temmuz-sonrasinin-ilk-adimlari-atilmistir-oyleyse-istanbulda-secimler-yenilenmeli-2049881, diakses pada tanggal 3 April 2019.

[3] BARBAROSOĞLU, Fatma, “İşte Bu Andan Geriye Kalan Nedir?”, Yeni Şafak, 2019.

[4] Meryem Ilayda Atlas, “AK Parti Shape General Trends of Both Opposition, Society”, Daily Sabah, https://www.dailysabah.com/columns/meryem-ilayda-atlas/2019/04/01/ak-party-shapes-general-trends-of-both-opposition-society, diakses pada tanggal 3 April 2019.

[5] Untuk melihat hasil akhir Pemilihan Daerah Turki 29 Maret 2009 secara lengkap anda dapat mengunjungi, http://secim2009.sabah.com.tr/

[6] Terkait tentang kebijakan liberalisasi ekonomi dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi dapat dilihat di Şerife Özşahin, “Türkiye Ekonomisinde Finansal Liberalizasyon ve Ekonomik Büyüme Etkileşimin ARDL Yöntemi ile Analizi”, Selçuk Üniversitesi İİBF Sosyal ve Ekonomik Araştırmalar Dergisi, Konya, h. 379-413, John Williamson, Molly Mahar, Finansal Liberalizasyon Üzerine Bir İnceleme, Ankara: Liberte Yayınları, 2002.

[7] Terkait pembangunan asimetris yang terjadi di Turki anda apat membaca, Zafer Kalkınma Ajansı, 2014-2023 Bölge Planı III. Cilt Mevcut Durum Raporu,


fwachidFatchul Wachid, B.A. – fwachid@turkid.org

Researcher on Ottoman Economy, General Coordinator of TURKID Turkish-Indonesian Foundation for Academic Research and Development, Former President of Indonesian Student Association in Turkey.